
Petugas menunjukan barang bukti saat rilis perkara tindak pidana pencurian data elektronik (skimming) dan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh WNA di Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Sabtu (17/3)
JawaPos.com - Kasus pembobolan ATM dengan mencuri data kartu atau skimming mengancam reputasi perbankan. Perbankan harus melakukan upaya mitigasi secepatnya sehingga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan utama itu pulih.
Project Consultant Asian Development Bank (ADB) Eric Sugandi menuturkan, dampak jangka pendek terkait dengan kasus skimming adalah meningkatkan risiko reputasi (reputational risk). Hal tersebut harus menjadi perhatian bank yang sedang memerangi skimming dan bank-bank lain sehingga peristiwa serupa tidak terulang.
"Kepercayaan nasabah bisa pulih atau malah menurun, semua bergantung pada seberapa cepat bank memitigasi kejadian ini," tegasnya di Jakarta kemarin.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Agusman Zainal menambahkan, terkait dengan kasus skimming, pihaknya telah meminta perbankan meningkatkan aspek keamanan kartu debit maupun kredit yang digunakan. Salah satu yang dianjurkan BI adalah penggunaan kartu berbasis chip. Sebab, hal tersebut telah diatur dalam ketentuan BI tentang National Standard Indonesia Chip Card Specification (NSICCS).
Sebagai informasi, penerapan kartu chip dilakukan bertahap. Pada 2018, targetnya hanya 30 persen. Tahun depan meningkat menjadi 50 persen. Tahun 2020 menjadi 80 persen. Lalu, baru pada 2020 seluruh kartu nasabah bank diharuskan berbasis chip hingga 100 persen.
Agusman menekankan, di samping imbauan untuk segera menerapkan penggunaan chip tersebut, BI juga telah menindaklanjuti laporan tentang kasus itu dengan melakukan pemanggilan terhadap pihak-pihak penerbit kartu.
Namun, dia belum bersedia menyebutkan dengan detail jumlah pihak yang dipanggil. "Dari pertemuan itu, kami minta mereka melakukan langkah-langkah perbaikan dan itu harus dilakukan terus-menerus," tegasnya saat dihubungi koran ini kemarin.
Sementara itu, Direktur Digital BRI Indra Utoyo mengakui, BRI telah mendeteksi bahwa automated teller machine (ATM) di 300 titik berpotensi terkena skimmer. BRI pun segera meningkatkan keamanan pada mesin-mesin ATM tersebut dengan memasang alat anti-skimmer yang lebih canggih. Alat yang lebih canggih itu juga akan dipasang di semua mesin ATM BRI.
Saat ini BRI telah men-default setting (format ulang) semua kartu ATM Simpedes sehingga tidak bisa ditransaksikan dari luar negeri. Indra menyebutkan, ada sekitar 35 juta kartu yang layanan transaksi luar negerinya dinonaktifkan.
"Jika ada nasabah yang butuh transaksi luar negeri, bisa mendatangi bank agar diubah setting-annya," jelas Indra saat diskusi bersama media di Bandung kemarin (17/3). Sementara itu, untuk produk kartu lain seperti Britama dan BRI Prioritas tetap bisa bertransaksi luar negeri.
Kartu debit yang memakai chip memang hanya diberikan kepada nasabah baru. Sementara itu, untuk nasabah lama, semuanya masih memakai magnetic stripe. Sedangkan untuk kartu kredit, semuanya sudah memakai chip. Migrasi dari magnetic stripe ke chip ditargetkan mencakup 30 persen dari kartu debit BRI tahun ini dan diharapkan bisa 100 persen tahun depan.
Indra juga mengungkapkan, BRI bersama pihak berwajib telah menemukan sindikat kejahatan yang memanfaatkan e-commerce. Beberapa waktu lalu beredar pesan WhatsApp mengenai notifikasi one-time password (OTP) dari BRI untuk bertransaksi di Ayopop.com. Padahal, penerima SMS tersebut bukan pengguna Ayopop dan tidak melakukan transaksi lewat Ayopop. "Sudah kami temukan pelakunya dari Palembang. Orangnya sekampung. Banyak," ujar Indra.
Mantan direktur PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) itu menjelaskan, pelakunya belum ditangkap karena jumlahnya sangat banyak dan mereka bekerja sama. BRI dan pihak kepolisian masih berupaya membongkar kasus itu lebih dalam dan melakukan penangkapan.
Indra berpesan agar masyarakat berhati-hati dalam bertransaksi secara online. Bila nasabah tidak bertransaksi online tapi menerima SMS kode pengaman atau kode otentikasi atau kode pengaman yang berupa password seolah-olah dari BRI, abaikan dan hapus pesan tersebut. Sebab, itu adalah penipuan.
Selain itu, jangan pernah memberikan tiga angka di belakang kartu kepada siapa pun meski ada orang yang mengaku berasal dari BRI. "BRI tidak pernah menelepon dan meminta kode dan informasi apa pun dari nasabah," tegas dia.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
