DEDIKASI: Nadia Anggraini, Sid Sridhar, dan Sonita Lontoh.
JawaPos.com - Ada banyak eksekutif asal Indonesia yang meniti karir di Silicon Valley, tempat di mana gairah teknologi dan bisnis berpadu untuk mengubah dunia. Berikut sekelumit cerita dari tiga eksekutif di sana yang punya kepedulian terhadap perkembangan start-up.
Sonita Lontoh, Vice President of Strategic Marketing Siemens-Digital Grid
Butuh Ekosistem Start-up Kuat
Dibesarkan di Jakarta, Sonita Lontoh mengambil studi di Berkeley, AS. Setelah lulus, dia membangun perusahaan game online yang berbasis di Bay Area dan Beijing. Dua tahun kemudian, dia menjual perusahaannya. Setelah kemudian bekerja di beberapa perusahaan teknologi dan kuliah lagi, dia meraih gelar master di bidang teknik dan pemasaran dari MIT dan Kellogg. Sonita pun kemudian berkarir menjadi eksekutif Internet of Things (IOT) yang fokus pada sektor industri dan energi.
Sonita masih menjalin hubungan erat dengan tanah airnya. Dia juga membantu perusahaan-perusahaan dari Silicon Valley ke Indonesia, memfasilitasi kunjungan antarnegara yang dilakukan para pengusaha dari kedua negara untuk saling belajar. Program tur tersebut dinamakan Aliansi Teknologi SVA (SVA Tech).
SVA Tech juga membawa penggiat start-up dari Asia Tenggara ke Bay Area (area metropolitan di Teluk San Francisco, termasuk Silicon Valley di dalamnya, Red) untuk bertemu para inkubator, modal ventura, serta penggiat start-up lainnya. Beberapa perusahaan yang telah mengikuti tur itu, misalnya, Bukalapak dan Happy 5.
Para pengusaha dari perusahaan-perusahaan tersebut belajar tentang pengembangan teknologi dan memperluas basis investor. Mereka juga berbagi dengan penggiat start-up yang mempunyai kesamaan dengan industri mereka. Mereka saling berbagi mengenai cara memecahkan masalah.
”Saya percaya, hal yang paling penting untuk dipelajari para pebisnis start-up dari Silicon Valley adalah cara untuk tumbuh besar dengan cepat,” katanya.
Beberapa start-up Indonesia telah membangun koneksi dengan Silicon Valley. Contohnya, Tokopedia, yang valuasinya naik USD 100 juta dan telah mendapatkan investasi dari modal ventura di Silicon Valley, Sequoia Capital.
Ditanya tentang apa yang bisa membuat start-up Indonesia berkembang, dia menjawab ada dua hal. Pertama, yang bisa meningkatkan layanan perusahaan berbasis teknologi seperti teknologi, logistik, dan ekosistem start-up yang kuat. E-commerce perlu menyediakan solusi untuk orang yang tidak punya kartu kredit. Soal logistik, bergantung infrastruktur di Indonesia. Soal ekosistem, itu terkait dengan bagaimana para investor, mentor, dan pengusaha saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain.
Hal kedua adalah aturan pemerintah. Investor dan pengusaha baru bisa berkembang jika ada regulasi yang jelas. ”Investor asing sering kali ragu untuk berinvestasi karena aturan mainnya tidak selalu jelas,” ujarnya. Ketika sudah jelas pun, terkadang aturan itu berubah di tengah jalan. Ketika modal sulit masuk, pertumbuhan pengusaha akan menciut, padahal Indonesia adalah pasar yang potensial.
Nadia Anggraini, Analytics dan Insights di Uber
Bekerja di Start-up Itu Bergengsi
Lahir di Medan, Nadia mulai bersekolah di Singapura di usia 9 tahun. Lalu, dia kuliah di Wharton School di University of Pennsylvania. Setelah lulus, dia bekerja di perusahaan pembiayaan mikro, Kiva, di Bali. Nadia juga sempat bekerja di perusahaan investasi sosial, The Roberts Enterprise Development Fund (REDF). Kemudian, dia pindah ke San Francisco dan bergabung dengan perusahaan konsultan The Boston Consulting Group (BCG).
Nadia punya passion di bidang pembangunan internasional. Dia berharap suatu saat bisa kembali ke Indonesia memberi dampak positif kepada jutaan orang.
Setelah bekerja di BCG dan REDF, Nadia kembali ke Jakarta dan bekerja di PR Rekan Usaha Mikro Anda (RUMA) serta Grab Taxi. Dia meraih gelar master dari Stanford di bidang pembuatan kebijakan dan selalu ingin bekerja di negara berkembang.
Terdorong keinginan untuk mengembangkan keterampilan bisnis dan teknologi yang sangat kuat, Nadia pun kembali ke San Francisco. Dia masih ingin pulang ke rumah suatu hari nanti dan terlibat dalam pembangunan internasional.
Pernah bekerja di start-up dengan dua ekosistem yang berbeda seperti di Bay Area dan pemula di Indonesia, Nadia memandang perbedaan antara keduanya. Di Bay Area, menemukan kecocokan produk dan market itu merupakan suatu hal yang dikejar dengan sungguh-sungguh. ”Di Indonesia sering kali yang penting adalah mencari tahu tantangan operasional, bukan berinovasi pada produk,” tuturnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Prediksi Newcastle Jets vs Gamba Osaka di AFC Champions League Elite: Tim Tamu Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Lens vs Sporting Lisbon di Liga Champions: Kedua Tim Incar Kemenangan Beruntun
Prediksi Skor Buriram United vs Beijing Guoan: The Imperial Guards Terancam Tertahan
Prediksi Skor Newcastle Jets vs Gamba Osaka: Pertahanan Rapuh Tuan Rumah Jadi Celah!
TPG Guru Non-ASN Belum Cair, PGRI Desak Kemendikdasmen dan Kemenkeu Berikan Kepastian
Prediksi Skor Pohang Steelers vs Johor Darul Ta’zim: Harimau Selatan Siap Terkam Tuan Rumah
Prediksi Skor Kyoto Sanga vs Ratchaburi: Duel Tim Pesakitan Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Al Sadd vs Al Hilal: The Blue Waves Siap Menang Tipis di Doha
Prediksi Susunan Pemain Arsenal vs Lille: Gabriel Magalhaes Tetap Andalan Lini Belakang The Gunners

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022