
Layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin sore ditutup positif dengan menguat 17 poin atau 0,38 persen ke level 4.513. Foto: Dery
JawaPos.com - Meski surplus, kinerja ekspor dan impor pada Mei menunjukkan penurunan. Data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor tercatat USD 10,53 miliar dan impor USD 8,44 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Mei surplus USD 2,1 miliar.
”Terciptanya surplus ini kurang menggembirakan karena ekspornya mengalami penurunan 28,95 persen secara year-on-year. Impornya turun jauh lebih dalam, yaitu 42,2 persen secara year-on-year,’’ kata Kepala BPS Suhariyanto dalam video conference di Jakarta kemarin (15/6).
Dia menjelaskan, kinerja ekspor mengalami pertumbuhan negatif pada banyak sektor. Di antaranya, pertanian, industri pengolahan, hingga pertambangan. Di sisi lain, impor juga turun pada semua kategori barang. Mulai konsumsi, bahan baku dan penolong, hingga barang modal.
Kondisi ekonomi dunia, kata Suhariyanto, masih diliputi ketidakpastian. Banyak negara tujuan ekspor Indonesia yang mengalami perlambatan ekonomi, bahkan kontraksi. Beberapa di antaranya juga mengalami pelemahan daya beli dan melakukan pembatasan kegiatan ekonomi maupun sosial yang mengganggu proses produksi. ”Ini juga berdampak pada neraca dagang Indonesia bulan Mei,” ulasnya.
Sementara itu, di Jawa Timur (Jatim), neraca dagang tercatat defisit USD 9,18 juta. Nilai ekspor tercatat USD 1,25 miliar atau turun 30,82 persen secara year-on-year (yoy). Sedangkan nilai impor USD 1,26 miliar atau turun 38,7 persen (yoy). Lesunya ekonomi akibat pandemi Covid-19 membuat ekspor maupun impor sama-sama anjlok. ”Secara umum kita masih ditopang oleh ekspor barang perhiasan serta lemak hewani dan nabati yang merupakan barang utama ekspor Jatim. Kemudian, kita juga ada aktivitas impor aksesori kendaraan bermotor,” ujar Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan.
Namun, di tengah tren penurunan, perdagangan terkait barang-barang untuk kebutuhan kesehatan tercatat naik. Sebut saja ekspor sarung tangan yang naik 733,58 persen secara month-on-month (mom) menjadi senilai USD 437,52 ribu. Untuk impor, terjadi lonjakan 1.648,32 persen (mom) menjadi USD 2,22 juta.
Di sisi lain, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menuturkan, surplus neraca dagang yang terjadi memang patut diwaspadai. Hal itu dipengaruhi struktur ekonomi Indonesia yang terbilang unik.
”Karena sebagian besar kebutuhannya masih perlu impor, jadi kalau impornya turun, malah itu tanda-tanda resesi. Lalu, ekspornya juga turun. Meski ekspornya surplus daripada impor, tapi saat ini kan permintaan dunia melemah semua,’’ ujarnya.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
