
ILUSTRASI: Hingga 2018, produksi kopi merapi baru 5 ton untuk jenis Arabika dan 20 ton jenis Robusta.
JawaPos.com - Terpuruk sejak terkena dampak erupsi Gunung Merapi akhir 2010 silam, produksi tanaman kopi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) hingga kini belum pulih. Salah satu faktornya adalah para petani yang enggan memaksimalkan lahan mereka kembali.
Padahal permintaan kopi merapi terus tumbuh dan prospek pasarnya kian menjanjikan, terbukti dengan adanya permintaan ekspor. Ketua Koperasi Usaha Bersama (KUB) Kebun Makmur, Desa Petung, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Sumijo mengatakan, saat ini jumlah tanaman yang pulih usai terdampak erupsi 2010 baru sekitar seperempat saja. "Banyak yang di Cangkringan belum pulih," katanya, saat dihubungi Selasa (12/2).
Kendalanya karena para petani setelah erupsi tinggal di tempat relokasi. Yakni di lokasi Hunian Tetap (Huntap) dan rumah mereka sebelumnya pun sudah jarang ditempati. "Masyarakat yang tinggal di relokasi jadi harus ekstra kalau mau ke kebun untuk memelihara kopi," katanya.
Akibatnya jumlah produksi pun cukup terbatas. Hingga 2018, per tahun hanya sebanyak 5 ton saja untuk kopi jenis Arabika, dan 20 ton jenis Robusta.
Dari jumlah itu, menurutnya masih sangat timpang dengan banyaknya permintaan. Kopi-kopi hasil tanaman petani, biasanya hanya dijualnya untuk memenuhi pasar di Jogja dan daerah-daerah sekitarnya. "Hingga sekarang, kami fokus memenuhi permintaan lokal dan nasional saja," ucapnya.
Padahal, menurutnya permintaan ekspor dari beberapa negara saat ini sudah cukup banyak. Bahkan eksisnya kopi ini sempat menjamah pasar di Jerman pada 2003 silam. "Dulu sempat ekspor ke Jerman. Tapi sampai sekarang berhenti karena kendala jumlah," katanya.
Ia mengaku, kopi asli dari Sleman ini cukup mempunyai keistimewaan di segi cita rasanya. Yakni karena tanamannya di lereng gunung aktif yang sering terkena dampak abu vulkanik dan perawatannya pun dengan cara organik.
Edi Sri Harmanto, Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian, Pangan, dan Peternakan (DP3) Kabupaten Sleman, menambahkan, tanaman kopi merupakan salah satu yang terdampak erupsi 2010. "Kopi dan salak yang paling banyak lahannya terkena dampak erupsi," katanya.
Seusai erupsi, para petani setempat juga telah berupaya untuk melakukan pemulihan. Terutama jenis salak, yang jumlah produksinya semakin meningkat.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
