Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 Mei 2018 | 22.16 WIB

Menghindari Jerat Middle Income Trap, Ini Strategi ala Kepala BPPT

B.J. Habibie memberikan pidato dalam Dialog Nasional di kantor BPPT (9/5). - Image

B.J. Habibie memberikan pidato dalam Dialog Nasional di kantor BPPT (9/5).

JawaPos.com  - Indonesia sedang berupaya meraih predikat sebagai negara maju. Memanfaatkan momentum ledakan penduduk usia produktif atau bonus demografi. Namun, jika tidak direncanakan secara baik, harapan menjadi negara maju itu justru membuat Indonesia terjerumus ke dalam middle income trap atau jebakan pendapatan menengah.


Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto mengimbau agar Indonesia jangan sampai terjebak oleh middle income trap. "Bagaimana untuk bisa menjadi negara maju? Tentu tidak mudah," katanya dalam pembukaan Dialog Nasional di kantor BPPT (9/5).


Salah satu cara agar dapat terhindar dari middle income trap yaitu dengan memaksimalkan pemanfaatan teknologi dan penciptaan inovasi. Selain itu, Indonesia juga harus bisa meraih pertumbuhan ekonomi 8 persen tiap tahun. Namun untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar itu tidak mudah. Apalagi industri tanah air masih terbelakang. Khususnya terkait pemanfaatan inovasi dan teknologi.


Unggul lantas menjelaskan, bukan berarti tidak mungkin untuk menjadi negara maju dan bebas dari middle income trap. Dia memberi contoh beberapa negara yang berhasil menjadi negara maju dan keluar dari jebakan pendapatan itu. Seperti yang dicapai oleh Jepang, Hongkong, Korea Selatan, dan Singapura.


Dalam dialog ini, juga hadir B.J. Habibie dan Megawati Soekarnoputri. Dalam pidatonya Habibie mengatakan salah satu kunci adalah peningkatan SDM melalui pendidikan. Selain itu dia juga menyampaikan faktor perilaku manusia. "Perilaku itu terkait dengan agama dan budaya," jelasnya.


Habibie mengatakan saat ini Indonesia harus fokus dalam membangun SDM. Kalau orangnya pintar, pembiayaannya negatif itu bahaya. "Bisa rusak semua. Bahaya," jelasnya.


Sebaliknya kalau budayanya bagus tapi pendidikannya jelek, bukan berbahaya. Tetapi tidak bisa melakukan apa-apa. Untuk itu Habibie begitu menekankan pentingnya pendidikan dan pembudayaan atau pembentukan karakter. Jadi Habibie menyimpulkan, harus ada perhatikan pembangunan sumber daya manusia. "Mulai dari mana? Dari keluarga. Jadi keluarga harus dibina juga," tandas Habibie. 

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore