Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Juni 2023 | 00.56 WIB

Sistem Multilateral Bisa Dongkrak Kinerja Bursa Berjangka di Indonesia, Sayangnya Belum Populer

TEKNOLOGI BLOCKCHAIN: Aplikasi trading kripto menunjukkan naik turunnya harga koin. Bitcoin menjadi salah satu incaran para investor. (Alfian Rizal/Jawa Pos) - Image

TEKNOLOGI BLOCKCHAIN: Aplikasi trading kripto menunjukkan naik turunnya harga koin. Bitcoin menjadi salah satu incaran para investor. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

JawaPos.com – Pemangku kepentingan dalam bursa komoditas terus berupaya menjangkau lebih banyak nasabah. Strategi yang dilakukan adalah mendorong transaksi multilateral di tanah air. Yang sampai saat ini kontribusinya masih belum besar.

Pemeriksa Perdagangan Berjangka Komoditas Ahli Utama Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Sahudi menyebutkan, peran bursa berjangka dalam ekonomi di Indonesia sebenarnya cukup penting. Sebab, bursa tersebut bisa menjadi acuan harga serta memberikan efek perlindungan bagi pemilik komoditas.

"Hedge (lindung nilai) itu merupakan alat yang bisa menjamin bahwa harga yang dijual sesuai keinginan. Kalau hanya menjual, harga bisa terpengaruh oleh faktor seperti cuaca, supply-demand, dan lain-lain," jelasnya Senin (5/6).

Semakin banyak pemilik dan investor yang terlibat maka daya dongkrak bursa berjangka makin besar. Untuk meramaikan pasar, Bappebti mengandalkan sistem multilateral.

Dengan sistem tersebut, investor bisa mencari kontrak di platform tanpa harus berhubungan langsung dengan pemilik komoditas. Dengan demikian, perdagangan kontrak berjangka bisa berputar secara aktual.

"Sayang, di Indonesia, konsep ini belum menjadi favorit. Kebanyakan kontrak berjangka dilakukan secara bilateral," ujarnya.

Dari dua perusahaan penyedia bursa komoditas, tren transaksi multilateral memang sedang menurun. Tahun lalu Bursa Berjangka Jakarta mencatat nilai perdagangan mencapai Rp 288,7 triliun. Turun 17,39 persen dibanding 2021 senilai Rp 349,52 triliun.

Sementara itu, PT Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mencatat mencapai Rp 74,67 triliun. Turun 57 persen dibandingkan realisasi 2021. (bil/c12/dio)

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore