
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro. (Bank Mandiri untuk Jawa Pos)
JawaPos.com - Pada Juni 2025, Badan Pusat Statistik mencatat kembali mengalami inflasi setelah sebelumnya deflasi pada Mei 2025. Didorong oleh naiknya harga pangan dan biaya transportasi selama musim libur sekolah. Realisasi itu menunjukkan bahwa daya beli masyarakat belum solid.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai, data inflasi Juni 2025 masih sesuai dengan ekspektasi. Kenaikan ringan menjadi 1,87 persen YoY mencerminkan faktor musiman sementara. Bukan perubahan tren inflasi yang mendasar.
Inflasi bulanan 0,19 persen didorong oleh kenaikan harga pangan dan transportasi menjelang akhir bulan. Seiring dengan musim liburan sekolah. Namun, tekanannya masih tergolong moderat, berkat berbagai intervensi pemerintah.
"Seperti diskon tarif pesawat dan transportasi umum lainnya yang membantu meredam inflasi musiman yang biasanya lebih tinggi," ujar Asmo kepada Jawa Pos, Selasa (1/7).
Dia menyoroti inflasi inti yang terus melambat. Dari 2,40 persen YoY per Mei 2025 menjadi 2,37 persen YoY di Juni 2025. Sebagian didorong oleh apresiasi rupiah seiring meredanya ketidakpastian global yang turut menurunkan tekanan inflasi dari barang impor.
Namun, pelemahan ini juga bisa mencerminkan lemahnya konsumsi domestik. Hal ini sejalan dengan Mandiri Spending Index (MSI) yang menunjukkan momentum belanja masyarakat masih terbatas pada Juni 2025. Meskipun, terjadi sedikit peningkatan belanja pada pekan terakhir bulan tersebut bertepatan dengan libur sekolah. Peningkatannya tidak menyeluruh.
Belanja kebutuhan pokok cenderung stagnan. Sementara pengeluaran rumah tangga untuk restoran hanya tumbuh kurang dari 1 persen rata-rata per pekan dibandingkan 1,1 persen pada 2024 dan 1,6 persen pada 2023. Ditambah belanja barang rumah tangga mengalami penurunan.
"Pola belanja ini mencerminkan kehati-hatian konsumen yang masih berlanjut, kemungkinan disebabkan oleh kekhawatiran terhadap keamanan pendapatan atau ketidakpastian ekonomi secara umum," terang Asmo.
Dari sisi eksternal, ketidakpastian akibat ketegangan geopolitik mulai mereda setelah adanya pernyataan gencatan senjata. Sentimen global yang membaik ini mendukung aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Serta berkontribusi pada penguatan nilai tukar Rupiah.
Risiko kenaikan harga minyak juga semakin kecil. Sehingga turut menurunkan potensi tekanan inflasi impor. Ke depan, kami memperkirakan akan ada tekanan harga musiman menjelang beberapa periode perayaan, termasuk libur akhir tahun, terutama pada komponen pangan.
"Meskipun terdapat tanda-tanda pelemahan konsumsi, upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga telah membantu meredam tekanan inflasi. Secara keseluruhan, kami melihat ruang bagi inflasi utama (headline inflation) untuk mengakhiri tahun sedikit di bawah proyeksi kami sebesar 2,38 persen YoY," ucap ekonom lulusan Universitas Indonesia itu.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
