
ILUSTRASI. Layar pergerakan IHSG di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (14/5/2025). IHSG ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (14/5/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Bursa saham Asia mengakhiri perdagangan dengan kinerja positif. Seiring meningkatnya harapan atas kelanjutan negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.
Indeks Hang Seng naik 1,5 persen ke level 23.512 dan indeks Shanghai menguat 0,4 persen ke 3.362 pada perdagangan Selasa (3/6). Namun, sentimen pasar tetap dibayangi ketegangan geopolitik dan data ekonomi yang menunjukkan perlambatan aktivitas manufaktur Tiongkok.
"Sentimen ini muncul setelah Presiden (AS Donald) Trump menuduh Tiongkok telah melanggar perjanjian dagang Jenewa, yang memicu kenaikan tarif terhadap baja dan aluminium," ucap Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro kepada Jawa Pos, Rabu (4/6).
Pemerintah AS juga mendesak negara-negara mitra dagangnya seperti Uni Eropa, Jepang, Vietnam, dan India untuk mengajukan penawaran terbaik mereka dalam negosiasi dagang. Dalam rangka upaya mempercepat pembahasan sebelum tenggat waktu 8 Juli 2025.
Di sisi lain, pelemahan fundamental mulai terlihat dari data ekonomi Tiongkok. Indeks PMI Manufaktur Caixin jatuh ke level 48,3 pada Mei 2025. Turun dari 50,4 pada April 2025 yang menandai kontraksi pertama sejak September tahun lalu.
"Penurunan ini mencerminkan tekanan yang semakin besar akibat lemahnya permintaan global, terutama karena pesanan ekspor turun ke level terendah sejak Juli 2023. Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Tiongkok di tengah ketidakpastian global yang meningkat dan pemulihan domestik yang rapuh," jelas Asmo.
Kondisi ini tecermin dari kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup melemah 0,3 persen ke 7.044 pada perdagangan Selasa (3/6). Didorong oleh pelemahan beberapa saham berkapitalisasi besar.
"Investor juga terus mencerna sinyal pelemahan kinerja ekspor Indonesia, yang tertekan oleh menurunnya permintaan dari mitra dagang utama seperti AS dan Tiongkok," imbuhnya.
Saham-saham unggulan seperti DCI Indonesia (DCII) yang terkoreksi 3,2 persen ke 151.325, lalu Chandra Asri Pacific (TPIA) turun 1,9 persen ke 9.125, dan Astra International (ASII) mengalami koreksi 1,7 persen ke 4.700. Untuk saham Bank Mandiri (BMRI) juga melemah 0,5 persen ke 5.050.
Saham yang memimpin penguatan adalah Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) naik 3,6 persen ke 2.620, kemudian Barito Pacific (BRPT) tumbuh 3,2 persen ke 1.290, dan Telkom Indonesia (TLKM) yang menguat tipis 0,7 persen ke 2.800.
Meski pasar obligasi menunjukkan penguatan terbatas, imbal hasil obligasi pemerintah RI 10 tahun turun ke 6,84 persen. Arus masuk asing tetap positif. Asmo menekankan bahwa investor akan tetap selektif.
Kepemilikan asing pada obligasi pemerintah per 28 Mei 2025 tercatat sebesar Rp 926,3 triliun atau 14,6 persen dari total outstanding. Dengan arus masuk bersih Rp 26,6 triliun secara month-to-date (MtD). Sementara secara tahun kalender, arus masuk bersih mencapai Rp 49,6 triliun year-to-date (YtD).

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
