Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 April 2025 | 19.38 WIB

Sentimen Pasar Bakal Rentan dalam Jangka Pendek, Negosiasi Dagang Pemerintah Sangat Krusial

Pengunjung mengamati layer digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Pengunjung mengamati layer digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com -  Setelah tutup selama hari libur Idul Fitri, indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka turun 9,19 persen ke level 5.912,062. Melewati batas auto trading halt sebesar 8 persen. Bursa Efek Indonesia (BEI) segera memberlakukan penghentian sementara perdagangan bursa.

Pasar saham global seperti indeks Wall Street juga ditutup melemah pada penutupan perdagangan Senin (7/4). Dow Jones turun 0,91 persen ke level 37.965 dan S&P 500 minus 0,23% ke posisi 5.062.

Sedangkan, indeks pasar saham di Asia bergerak bervariasi pada pembukaan perdagangan pagi hari ini. Indeks Hang Seng menguat sebesar 2,38 persen ke level 20.299, Nikkei naik 6,54 persen ke posisi 33.174, sedangkan indeks Taiwan TAIEX turun 2,9 persen ke 18.862.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan, sentimen pasar global tertekan oleh pengumuman Presiden AS Donald Trump terkait penerapan tarif impor resiprokal.

Dia menetapkan tarif dasar sebesar 10 persen untuk semua impor dan tarif yang lebih tinggi untuk negara-negara tertentu. Seperti Tiongkok sebesar 34 persen, Vietnam sebanyak 46 persen, dan Uni Eropa 20 persen.

"Ini yang memicu kekhawatiran akan terjadinya perang dagang global baru. Kebijakan ini menyebabkan penurunan tajam di pasar ekuitas global dan meningkatkan kekhawatiran atas tekanan inflasi. Sehingga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi," kata Asmo kepada Jawa Pos.

Sebagai tanggapan, beberapa negara yang terkena dampak mengumumkan tindakan balasan. Tiongkok mengenakan tarif 34 persen untuk semua impor AS yang berlaku mulai 10 April. Hal ini meningkatkan ketegangan perdagangan. Sebaliknya, Vietnam menawarkan untuk menghapus semua tarif impor AS. Yang bertujuan untuk mengurangi potensi dampak ekonomi.

Presiden Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 50 persen pada impor dari Tiongkok jika Beijing tidak mencabut tarif pembalasannya paling lambat 8 April. Langkah ini telah meningkatkan volatilitas pasar. Serta menimbulkan kekhawatiran akan konflik perdagangan yang berkepanjangan.

Asmo menilai, kebijakan tarif Presiden Trump memperburuk ketidakpastian global. Tindakan ini berisiko memperlambat pertumbuhan global melalui penurunan volume perdagangan internasional dan peningkatan tekanan biaya di berbagai sektor.

"Sentimen pasar kemungkinan tetap rentan dalam jangka pendek, seiring respons balasan dari negara-negara mitra dagang utama meningkatkan risiko konflik berkepanjangan," ungkapnya.

Peningkatan tarif berpotensi mendorong risiko stagflasi di AS. Inflasi dapat meningkat akibat kenaikan harga impor sementara pertumbuhan ekonomi tertahan. Kondisi itu dapat mempengaruhi prospek penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Terutama jika tekanan inflasi bertahan lebih tinggi dari ekspektasi.

"Namun, saat ini pasar lebih membobot kemungkinan perlambatan ekonomi, sehingga ekspektasi penurunan suku bunga meningkat menjadi 100 bps dalam tahun ini," imbuh Asmo.

Dia menjelaskan, Indonesia termasuk salah satu negara yang terdampak dengan pengenaan tarif sebesar 32 persen atas ekspor ke AS. Peningkatan tarif ini berisiko menekan kinerja ekspor nasional. Terutama untuk produk-produk manufaktur seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik yang memiliki eksposur tinggi ke pasar AS. Tekanan terhadap ekspor dapat memperburuk defisit transaksi berjalan dan menambah tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.

Menurut dia, strategi dan langkah pemerintah Indonesia untuk melakukan negosiasi dagang menjadi sangat krusial. Upaya untuk memperoleh pengecualian tarif atau membangun kesepakatan dagang bilateral yang lebih menguntungkan akan menjadi kunci dalam menjaga daya saing ekspor nasional.

Selain itu, diversifikasi pasar ekspor dan percepatan perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan negara lain dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar Amerika Serikat.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore