Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Januari 2025 | 15.04 WIB

Punya Banyak Kandungan Gizi, Sorgum Bisa jadi Bahan Pangan Pengganti Beras

Menhut Raja Juli Antoni dan Wamendiktisaintek Stella Christie dalam kunjungan kerja di NTT (13/1). (Humas Kemenhut) - Image

Menhut Raja Juli Antoni dan Wamendiktisaintek Stella Christie dalam kunjungan kerja di NTT (13/1). (Humas Kemenhut)

JawaPos.com - Pemerintah terus mendorong produksi pangan alternatif. Diantaranya adalah sorgum. Dengan kandungan gizinya yang banyak, sorgum bisa menjadi bahan pangan alternatif pengganti nasi. Di beberapa daerah, tanaman sorgum sudah mulai banyak dibudidayakan. 

Diantaranya lokasi penanaman sorgum yang sekarang jadi sorotan berada di kawasa Perhutanan Sosial di Soe, Timor Tengah Selatan, NTT. Secara khusus, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni meninjau lokasi tersebut. Dia menegaskan bahwa tanaman sorgum memiliki banyak kegunaan. 

"Sorgum punya banyak manfaat, bijinya bisa jadi tepung, batangnya bisa jadi gula," kata Raja saat kunjungan pada Senin (13/1).

Dia menjelaskan sorgum merupakan tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, bahan baku industri, hingga pakan ternak. Sorgum juga biasa dimanfaatkan sebagai pengganti beras karena memiliki kandungan gizi yang tinggi. 

Saat kunjungan itu, Raja mendapatkan fakta bahwa masih banyak petani di Kelompok Tani Hutan (KTH) Sehati diketahui masih menggunakan cakul untuk melakukan penanaman. Raja mengatakan Kemenhut akan memberikan bantuan salah satunya berupa traktor tangan. Selain itu, ia juga meminta agar para petani tak segan untuk meminta bibit.

"Jika perlu bibit misalnya buah-buahan, bisa dikoordinasikan dengan kepala Balai, kita bisa siapkan," tuturnya. 

Selain itu, Raja bersama Wamendiktisaintek Stella Christie melakukan peninjauan ke Perhutanan Sosial di Kabupaten Soe. Menhut Raja Antoni mengatakan potensi petani hutan luar biasa di wilayah itu. Namun masih ada kendala yang dihadapi salah satunya masalah air. 

"Di sini potensi petani hutannya luar biasa. Ada singkong, mete, dan pisang. Cuma masih ada beberapa kendala, salah satunya air," katanya.

Kendala itu akan diatasi dengan bantuan riset terlebih dahulu dari politeknik setempat bekerja dengan pemerintah daerah. Raja mengatakan di lokasi sudah ada pipa, tapi rusak.

Dalam kesempatan yang sama Wamendiktisaintek Stella mengatakan mereka akan membantu mencari solusi terkait masalah air. Dia juga mengatakan nantinya perguruan tinggi akan membantu guna meningkatkan ekonomi masyarakat di perhutanan sosial.

"Saya di sini membantu Pak Menteri Kehutanan, mendampingi Pak Menteri, mendengarkan masalah-masalah yang masih dimiliki, walaupun sudah banyak dan bangga sekali ketua kelompok adalah perempuan," ujar Stella.

Supaya segera solusi mengatasi persoalan air menggunakan teknologi. Dia mengatakan pendidikan tinggi harus bisa memberikan sumbangsih pada masyarakat lokal. Khususnya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore