
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono saat pembukaan Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) ke-20 di Nusa Dua, Bali, Kamis (7/11/2024). (Bayu Putra/JawaPos.com)
JawaPos.com – Program replanting atau penanaman kembali sawit akan dimanfaatkan pula untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mendorong penanaman tanaman pangan di lahan-lahan sawit yang tengah dilakukan replanting.
Sasaran utamanya adalah program peremajaan sawit rakyat (PSR). ”Sembari menunggu sawitnya tumbuh dalam 5 tahun, maka kita bisa juga memanfaatkan lahan-lahan (sawit) itu untuk produktivitas tanaman pangan kita yang lain,” ujar Sudaryono saat pembukaan Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) ke-20 di Nusa Dua, Bali, hari ini, Kamis (7/11).
Salah satu tanaman yang diproyeksikan bisa ditanam di lahan sawit adalah padi gogo. ”Saya minta pak Dirjen, padi gogonya, benihnya harus kita kasih gratis,” lanjutnya. Karena bila hanya didorong lalu petani menanam bibit yang tidak tepat, risikonya bisa besar.
”Begitu nanti (masa) panen ternyata nggak panen, kapok habis itu nggak mau nanam lagi, jelas Sudaryono.
Prinsipnya, yang ditanam adalah tanaman yang sehari-harinya dikonsumsi masyarakat Indonesia. Seperti padi, jagung, kedelai, termasuk tanaman hortikultura.
Sebagai gambaran, tutur Wamentan, luas lahan sawah produktif di Indonesia saat ini sekitar 7,4 juta hektare. Sementara, luas lahan sawit hampir mencapai 17 juta hektare. Saat ada peremajaan sawit, akan ada sawit baru yang ditanam dan butuh waktu lama untuk tumbuh dan berbuah.
”sampai dengan sawit ini menghasilkan penghasilan untuk petani sawitnya, selama 5 tahun sampai dia bisa panen pertama, kita berharap Kementerian Pertanian salah satu programnya kita ingin mereka kita minta untuk menanam tanaman pangan (di sekitar tanaman sawit baru).
Ada dua keuntungan yang bisa didapat petani. Pertama, sampai sawitnya panen, petani punya penghasilan dari tanaman pangan yang ditanam di sekitar tanaman sawit. ”keuntungan kedua, pemerintah jadi punya tambahan produksi tanaman pangan kita,” ucap Sudaryono.
Uji coba sudah dilakukan di beberapa titik dan berhasil. Memang, produktivitasnya tidak tinggi karena bukan di lahan sawah asli. ”Kalau nggak salah 2,5 ton per hektare. Lumayan lah, kan beda dengan sawah,” imbuhnya.
Hal senada disampaikan Chairman Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono. Dia mengatakan, program itu sudah dijalankan di beberapa perusahaan. ”Betul yang disampaikan pak Wamentan, jangan berharap produktivitasnya sepeti padi sawah,” ujarnya.
Menurut dia, bila program itu mampu menghasilkan minimal 2 ton beras per hektare saja, itu sudah bagus. ”Itu hanya untuk membantu saja selama program replanting, supaya ada tambahan bagi petani,” lanjutnya.

Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Pembuktian Magis Christian Pulisic
Prediksi Skor Timnas Qatar vs Swiss di Piala Dunia 2026: The Maroons Terancam Gagal Start Sempurna
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Daftar Pemain Kanada dan Bosnia Herzegovina di Grup B Piala Dunia 2026
