
Ilustrasi: Warga belanja di pasar. (Dok. JawaPos.com)
JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan penyebab konsumsi rumah tangga sedikit melambat pada kuartal III 2024 dibandingkan dengan Kuartal II 2024 yang sebesar 4,93 persen. Salah satunya, karena adanya penurunan konsumsi rumah tangga di sejumlah sektor, sedangkan pada saat kuartal II 2024 sektor tersebut tercatat mengalami pertumbuhan.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan, pada kuartal II 2024 terjadi pertumbuhan konsumsi rumah tangga untuk transportasi dan komunikasi sebesar 6,84 persen. Sedangkan pada kuartal III 2024, masih terjadi pertumbuhan, namun lebih rendah hanya 6,54 persen.
Kemudian untuk konsumsi restoran dan hotel, pada kuartal II 2024 tumbuh 6,8 persen dan pada kuartal III 2024 tumbuh 6,61 persen. "Jadi, tentu catatannya kenapa sedikit lebih lambat, karena memang pada kuartal II 2024 itu terjadi puncak konsumsi masyarakat, pasti terkait adanya Idul Adha, Idul Fitri, ini meningkatkan transportasi, komunikasi, dan juga konsumsi pada restoran dan hotel," kata Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/10).
Namun demikian, untuk konsumsi makanan dan minuman selain restoran pada kuartal III 2024 ini relatif lebih cepat tumbuhnya dibanding dengan kuartal II 2024. Begitu juga dengan pakaian alas kaki dan jasa perawatan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
"Sementara itu, untuk perlambatan konsumsi rumah tangga secara tahunan atau Year-on-Year (YoY) lebih disebabkan oleh komponen perumahan dan perlengkapan rumah tangga, transportasi dan komunikasi serta restoran, dan hotel," pungkasnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga pada kuartal III 2024 mencapai 4,91 persen. Angka ini sedikit melambat jika dibandingkan kuartal II 2024 yang sebesar 4,93 persen.
Bahkan, dari data yang disajikan BPS, angka itu juga lebih rendah jika dibandingkan kuartal III 2023 yang sebesar 5,05 persen secara tahunan atau YoY. Amalia memastikan bahwa meski terjadi perlambatan, namun konsumsi rumah tangga masih mencatatkan pertumbuhan yang tinggi.
Hal ini seperti terlihat dari konsumsi untuk restoran dan hotel yang tercermin dari peningkatan Tingkat Penghunian Kamar Hotel (TPHK) dan perjalanan wisatawan Nusantara. Sementara itu, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) berhasil tumbuh 5,15 persen YoY, atau meningkat jika dibandingkan dengan kuartal II 2024 yang hanya tumbuh 4,43 persen YoY.
Pertumbuhan ini didorong oleh pembangunan proyek infrastruktur oleh pemerintah dan swasta, seiring dengan berlanjutnya pembangunan IKN dan aktivitas konstruksi lainnya, seperti jalan tol dan infrastruktur lainnya. Tidak hanya itu, pertumbuhan komponen PMTB juka didorong oleh peningkatan realisasi belanja modal pemerintah dan peningkatan impor barang modal, khususnya jenis mesin dan peralatan lainnya.
"Konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi utama yaitu sebesar 2,55 persen. PMTB dengan sumber pertumbuhan 1,63 persen, dan konsumsi pemerintah yang memberikan sumber pertumbuhan 0,32 persen," pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
