
Ilustrasi beras di gudang (Dok/JawaPos.com)
JawaPos.com - Ekonom Konstitusi, Defiyan Cori menilai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) saat ini masih kurang mumpuni untuk mengelola kebutuhan bahan makanan atau penyediaan pasokan pangan dari dalam negeri.
Menurut dia, Bapanas sejak berdiri pada 2021 tidak memperlihatkan kinerja positif dalam menjaga ketahanan pangan nasional, bahkan pasokan komoditas masih bergantung pada impor pangan sejak awal 2024.
"Berarti tidak ada crash program yang dapat memungkinkan adanya penurunan impor beras atau bahan pangan sampai bulan Desember 2024," ujar Defiyan dalam pernyataan diterima di Bandarlampung, dikutip Antara, Senin (30/9).
Menurut dia, ketergantungan pada impor telah membuat munculnya kasus dugaan penyalahgunaan wewenang seperti biaya denda impor atau demurrage di pelabuhan yang berpotensi merugikan keuangan negara.
Selain itu, katanya, impor pangan tersebut justru menciptakan jalur baru yang melahirkan kartel-kartel dalam pengadaan komoditas bahan kebutuhan pokok, seperti beras dari luar negeri.
Kondisi itu, yang menyebabkan petani dalam negeri makin tidak terurus dan tingkat kesejahteraannya menjadi rendah, meski harga beras mengalami kenaikan.
"Permasalahan Bapanas tidak hanya soal adanya jalur baru dalam pengelolaan impor pangan, tetapi juga semakin menjauhkan dari penyelesaian masalah (problem solver) pangan serta pertanian dan hasil pertanian rakyat," katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih juga menginginkan adanya evaluasi kinerja Kepala Bapanas yang dinilai tidak memiliki keberpihakan kepada petani.
Menurut dia, harga gabah yang dijual petani saat ini terlalu rendah dan tidak menguntungkan, padahal harga beras di Indonesia termasuk salah satu yang termahal di Asia Tenggara.
Henry pun mengharapkan adanya figur dalam organisasi Bapanas mempunyai kepedulian terhadap sektor pertanian dan mempunyai keberpihakan untuk meningkatkan kesejahteraan para petani.
Ia menambahkan tata kelola beras nasional juga sebaiknya diserahkan kepada industri kecil dan koperasi, bukan membuka ruang sebebas-bebasnya kepada pelaku bisnis yang berorientasi pada keuntungan semata.
Sebelumnya, Country Director for Indonesia and Timor-Leste Bank Dunia Carolyn Turk memaparkan hasil survei yang menyebut harga beras di Indonesia tertinggi di ASEAN. Namun kesejahteraan petani Indonesia paling turun.
"Konsumen Indonesia telah membayar harga tinggi untuk beras. Harga eceran beras di Indonesia secara konsisten lebih tinggi daripada di negara-negara Asean," ujar Turk dalam kegiatan Indonesia International Rice Conference (IIRC).

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
