Logo JawaPos
Author avatar - Image
30 Agustus 2024, 01.30 WIB

Demi Mandiri dan Hemat Devisa, Indonesia Disebut Harus Bangun Industri Baja Terintegrasi Hingga Mencapai TKDN di Atas 90 Persen

ilustrasi produksi baja nasional. - Image

ilustrasi produksi baja nasional.

JawaPos.com - Produksi baja Indonesia saat ini tercatat hanya 8 juta ton per tahun. Jumlah ini terbilang sedikit dengan jumlah penduduk Tanah Air yang hampir menyentuh angka 282 juta jiwa, demikian disampaikan oleh Direktur Utama PT Inerco Global International, Hendrik M. Kawilarang Luntungan dalam keterangan tertulis yang diterima.

"Sedangkan di Korea Selatan, produksi bajanya 30 juta ton per tahun, di mana jumlah penduduk mereka hanya 52 juta jiwa. Indonesia harus membangun industri baja terintegrasi, sampai mencapai tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 90%. Dengan demikian, negara bisa mandiri dan menghemat devisa," ujar Hendrik.

Menyikapi ini, Hendrik menuturkan bahwa Inerco akan terus melakukan berbagai investasi di industri baja. Tidak hanya untuk industri migas, tapi juga untuk alutsista dan otomotif.

"Hal ini akan mampu kita lakukan seiring dengan konsistensi kebijakan pemerintah yang berpihak untuk industri nasional, khususnya mengenai TKDN," ujarnya.

Menurut Hendrik, negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada yang dulu mencanangkan globalisasi sekarang beramai-ramai menutup diri dari serangan produk impor guna melindungi industri dalam negeri mereka.

Di lain pihak, Tiongkok sudah tidak menarik lagi seiring dengan meningkatnya ekonomi negara tersebut yang menyebabkan pembengkakan biaya tenaga kerja. "Ini membuat negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Vietnam, Thailand dan Malaysia menjadi menarik sebagai destinasi investasi dunia, terutama investasi industri," katanya.

"Yang dibutuhkan bagi kita adalah stabilitas politik dan stabilitas ekonomi. Pemerintah harus bisa menjaga harga pangan dan energi. Ini kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Seiring dengan itu maka investasi otomatis akan menjadi sehat dimana perusahaan-perusahaan akan menikmati stabilitas profit," sambungnya.

Lebih jauh ia memaparkan, Tiongkok bisa berkembang di tahun 2000-an karena pemerintahnya menstabilkan harga pangan dan energi. "Kemudian disusul dengan pembangunan infrastruktur yang masif. Tahun 2006 ke atas, Tiongkok berhasil mengalami pertumbuhan ekonomi diatas 8%," katanya.

Untuk membuat industri baja kembali menggeliat, Hendrik menuturkan, Inerco telah menjalin kerja sama dengan PT Krakatau Steel. Menurutnya, kerja sama yang telah bergulir sejak Maret 2021 ini sangat strategis dan menjadi titik tolak setelah industri baja sempat lesu akibat pandemi.

"Kami sudah menjalankan kerja sama dengan anak usaha Krakatau Steel sebelumnya dan kali ini kami berkesempatan langsung bekerja sama dengan induknya," ungkap Hendrik.

Ia berharap, kerja sama teranyar ini bisa mengembangkan Krakatau Steel dan anak usahanya ke level proyek yang lebih besar dan dengan cakupan yang lebih luas. "Semoga dapat saling mengembangkan kemajuan perusahaan untuk kedua belah pihak," kata Hendrik.

Suasana penandatanganan antara PT Inerco Global International dan PT Artas Energi Petrogas terkait dengan pengoperasian pabrik pipa "seamless" di Kota Cilegon, Banten. (Istimewa)

Editor: Banu Adikara
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore