Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 Juli 2024 | 02.36 WIB

Rupiah Bakal Masih Melemah di Kuartal III, Berdampak pada Kondisi Fiskal Nasional

Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah - Image

Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah

JawaPos.com–Pertumbuhan ekonomi global tampaknya masih melambat ke depan. Imbasnya, bakal berdampak terhadap kondisi fiskal nasional. Meliputi aspek penerimaan, pengeluaran, dan pinjaman. Pelemahan rupiah bisa memicu pembengkakan utang.

”Data-data di negara maju maupun berkembang menunjukkan bahwa proyeksi di dua tahun mendatang akan mengalami perlambatan pertumbuhan (ekonomi). Melihat dari sektor keuangan, ada outflow di pasar SBN (surat berharga negara) sebesar Rp 7,1 triliun di Juni 2024,” ungkap Direktur Kolaborasi Internasional Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Imaduddin Abdullah, dalam diskusi di bilang Cikini.

Bahkan, di pasar saham per 21 Juni, terjadi capital outflow sebanyak Rp 1,98 triliun. Sejalan dengan sentimen depresiasi rupiah yang cukup dalam 6,51 persen. Jika dibandingkan dengan Jepang yen (JPY) atau Thailand baht (THB), penurunan nilai tukar rupiah relatif lebih baik. Tapi jika disandingkan dengan India rupee (INR) hanya minus 0,40 persen.

Menurut Imaduddin, transmisi gejolak ekonomi terhadap risiko fiskal bisa dilihat dari tiga aspek. Yaitu penerimaan, pengeluaran, dan pinjaman. Dari sisi penerimaan, gejolak ekonomi mengakibatkan penurunan ekspor. Pajak-pajak yang berkaitan dengan kegiatan ekspor akan merosot.

Perekonomian yang lesu juga akhirnya bakal memengaruhi penerimaan pajak dari aspek yang lain. Di saat yang sama, akan memberikan dampak terhadap peningkatan pengeluaran.

”Jadi ada kebutuhan stimulus dan jaminan sosial juga meningkat. Dan ini akhirnya menjadi sebuah tantangan juga buat pembiayaan karena di saat yang bersamaan penerimaan mengalami penurunan,” jelas Imaduddin Abdullah.

Di sisi lain, ketidakpastian global membuat biaya pinjaman meroket. Ditambah depresiasi rupiah.

”Artinya ada risiko kursi yang perlu ditanggung atau diantisipasi pemerintah melalui manajemen fiskal ke depan,” imbuh Imaduddin Abdullah.

Nilai tukar rupiah tampaknya masih akan tertekan memasuki kuartal III 2024. Kemungkinan baru akan turun menjelang akhir tahun. Dengan asumsi The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan.

Equities Specialist DBS Group Research Maynard Arif menyatakan, bank sentral Amerika Serikat (AS) itu akan memilih untuk soft landing. Tidak hanya inflasi sebagai acuan. Tapi juga memperhatikan data-data lain seperti nonfarm payrolls dan sentimen pemilu di semester kedua.

”Pemilu akan memberikan dampak terhadap perekonomian AS. Karena mungkin akan ada perubahan policy ketika pemimpinnya baru. Dan bahwa kami melihat sebetulnya dari sisi inflasi mungkin cukup sulit untuk mencapai 2 persen,” kata Arif dalam diskusi Navigating the Currency Volatility: Exploring Economic Projections and FX Investments di bilangan Kuningan.

DBS Group Research memproyeksi The Fed akan menurunkan suku bunga sebanyak dua kali di semester kedua tahun ini. Sejalan dengan pelemahan perekonomian AS. Dolar AS (USD) juga diperkirakan akan mencapai puncaknya di kuartal III 2024.

Perekonomian Indonesia saat ini tengah dihantui dengan pelemahan rupiah. Perbedaan suku bunga acuan antara The Fed dan Bank Indonesia (BI) yang cukup tipis menyebabkan investor gampang untuk menarik dana dan memindahkannya ke negara lain. Bersamaan dengan itu, hampir seluruh mata uang dunia melemah terhadap USD.

Menurut Arif, BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 6,25 persen sampai akhir tahun. Bank sentral baru akan memangkas BI rate ketika Fed funds rate turun lebih dulu.

”Karena kami melihat bahwa perekonomian Amerika (Serikat) mungkin akan mengalami perlambatan. Dan juga The Fed akan menurunkan suku bunga,” beber Arif.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore