Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 Desember 2023 | 06.03 WIB

Praktisi Komunikasi Ungkap Pentingnya Komunikasi yang Terintegrasi di Bandara

Pakar Komunikasi sekaligus CEO NEXUS Risk Mitigation and Strategic Communications Firsan Nova (kiri). - Image

Pakar Komunikasi sekaligus CEO NEXUS Risk Mitigation and Strategic Communications Firsan Nova (kiri).

JawaPos.com–Menghadapi tantangan yang tak terduga, bandara memiliki peran penting bagi komunikasi yang efektif untuk mencegah krisis. Dengan meningkatnya kompleksitas lingkungan penerbangan, strategi komunikasi yang kokoh dan responsif menjadi kunci utama dalam menjaga citra positif di lingkungan bandara.

Hal itu selaras dengan upaya yang dilakukan Unit Branch Communication Angkasa Pura II-Soeta dengan mengadakan Coffee Morning Kehumasan dengan mengundang beberapa bidang kehumasan Bandara International Soekarno-Hatta.

Menurut Executive General Manager Bandara International Soekarno-Hatta Dwi Ananda Wicaksono, strategi komunikasi yang tepat bukan hanya tentang menyampaikan informasi kepada penumpang. Melainkan juga membangun komunikasi positif ke publik.

”Karena pada dasarnya komunikasi yang terintegrasi dan terkoordinasi dengan efektif akan menciptakan citra yang positif di mata publik,” ungkap Dwi secara hybrid.

Pakar komunikasi sekaligus CEO NEXUS Risk Mitigation and Strategic Communication Firsan Nova membenarkan perlu adanya strategi komunikasi yang tepat dengan menciptakan kesadaran terkait pelayanan di bandara, pertahankan kredibilitas, serta ciptakan komunikasi internal yang terintegrasi. Sebab, pada dasarnya jika informasi tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan isu baru.

Firsan mengatakan perlu ada intervensi isu supaya tidak menjadi krisis. Ada tiga faktor yang memengaruhi sebuah isu.

”Yakni content of issue, source of issue, dan public interest. Apabila isu dinilai tidak penting, tetapi publik tertarik, akan berujung pada krisis,” tambah Firsan dalam Coffee Morning Kehumasan di Airport Learning Center.

Selain itu, seorang PR juga perlu memahami siapa saja pemangku kepentingan yang ada di bandara. Menurut Firsan pemberitaan yang ramai dibicarakan publik itu bisa muncul dari berbagai sektor pemangku kepentingan.

”Bisa saja sopir taksi yang baru-baru ini viral melakukan aksi di Soeta, secara langsung itu sebenarnya isu buat tim komunikasi bandara. Karena kelalaian salah satu pemangku kepentingan bisa berdampak positif dan negatif ke perusahaan,” tambah Firsan.

Menurut Firsan, jika isu sudah teridentifikasi, perlu penilaian terhadap isu atau dikenal dengan issue assessment. ”Dalam konteks issue assessment untuk meminimalisir terjadinya krisis, ada dua protokol yang harus dijalankan, yakni manajemen isu dan mitigasi risiko,” ungkap Firsan.

”Saat kita diserang, perlu adanya issue taker yang dilanjutkan dengan balancing narrative baik di media massa maupun media sosial. Jika isu sudah mereda, waktunya tim komunikasi melakukan investasi narasi positif baik di media sosial maupun media massa,” papar Firsan.

”Menghadapi masa depan yang dinamis, strategi komunikasi bandara yang kuat dan responsif bukan hanya merupakan alat untuk menghadapi krisis, tetapi juga merupakan investasi dalam membangun kepercayaan dan citra yang positif bagi seluruh komunitas penerbangan,” tambah dia.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore