Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Juli 2023 | 02.15 WIB

Antisipasi Elnino, NFA Bangun Early Warning System Kerawanan Pangan dan Gizi

NFA bangun early earning system kerawanan pangan dan gizi. (IST)

JawaPos.com - Elnino yang memicu kekeringan harus diantisipasi sedini mungkin agar tidak berdampak signifikan terhadap ketahanan pangan dan gizi. Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi menilai, penting bagi seluruh pihak mulai dari pemerintah pusat dan daerah serta stakeholder untuk membangun sinergitas yang kuat. Salah satunya dengan memiliki early warning system (EWS) dalam menghadapi Elnino.

"Kita sepakati bahwa kita harus memiliki early warning system untuk kerawanan pangan dan gizi. Ini penting terutama karena kita menghadapi ancaman Elnino. Jadi setiap daerah harus waspada dan melakukan mitigasi kerawanan pangan dan gizi di wilayah masing-masing." ujar Arief saat membuka Pertemuan Penguatan Analisis Sistem Peringatan Dini Kerawanan Pangan dan Gizi (SKPG) di Bogor, pada Kamis (20/7).

Arief menjelaskan bahwa Sistem Kerawanan Pangan dan gizi yang dibangun NFA bersama pemerintah provinsi dan kabupaten kota menjadi early warning system yang harus dimanfaatkan untuk memitigasi faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya elnino.

"Saya ingin Bapak Ibu yang berada di level teknis di provinsi dan kabupaten kota benar benar memahami SKPG ini. Sehingga data yang dihasilkan nantinya dapat dipertanggungjawabkan dan dimanfaatkan untuk mengantisipasi terjadinya kerawanan pangan dan gizi." jelas Arief.

Menurutnya, hal ini selaras dengan arahan Presiden Joko Widodo dalam Rapat Terbatas Bersama sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju yang dipimpin Presiden Joko Widodo, pada Selasa (18/7) di Istana Negara, Jakarta di mana salah satu fokus antisipasi dampak Elnino adalah menjaga ketahanan pangan.

"Jadi pola mitigasi ini kita mulai dengan membangun sistem berbasis digital, sehingga setiap daerah mengetahui situasi dan kondisi kerawanan pangan dan gizi di daerahnya. Ini penting karena sistem tersebut dihimpun berdasarkan berbagai aspek ketahanan pangan mulai dari ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, dan pemanfaatan pangan," ungkap Arief.

Adapun berbagai indikator pada aspek ketersediaan pangan meliputi berbagai data luasan tanam dan puso komoditas pangan, aspek keterjangkauan pangan mencakup data harga komoditas pangan dalam periode yang ditentukan. Sedangkan aspek pemanfaatan pangan meliputi data status gizi balita.

Pihaknya juga memasukkan data dukung informasi iklim yang salah satunya untuk mewaspadai Elnino yang mengancam ketahanan pangan. Tentunya, perlu berkolaborasi dengan Kementerian dan lembaga terkait dalam pemenuhan berbagai data tersebut.

"Sehingga kemudian bisa menghasilkan kesimpulan yang dikategorisasikan dalam tiga indikator yaitu rentan, waspada, dan aman." kata Arief.

Arief menegaskan bahwa setiap daerah harus memahami kondisi ketahanan pangan masing-masing. Dikatakannya, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, para pemimpin di daerah baik gubernur dan bupati walikota bertanggung jawab terhadap urusan ketahanan pangan di daerahnya masing masing.

"Adapun SKPG ini berbasis website yang dapat diakses melalui skpg.badanpangan.go.id dan secara periodik menghasilkan data status rawan pangan dan gizi baik secara nasional, provinsi maupun kabupaten kota," tandasnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore