Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Juli 2023 | 05.32 WIB

Stafsus Menkeu Sri Mulyani Bantah Indonesia Jadi Negara Gagal Sistemik, Ini Penjelasannya

Staf Khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani bidang Komunikasi Strategis, Yustinus Prastowo. (Nurul Fitriana/JawaPos.com) - Image

Staf Khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani bidang Komunikasi Strategis, Yustinus Prastowo. (Nurul Fitriana/JawaPos.com)

 
JawaPos.com - Staf Khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani bidang Komunikasi Strategis, Yustinus Prastowo membantah pernyataan bahwa Indonesia masuk ke dalam kategori negara gagal sistemik.
 
Hal ini disampaikan Yustinus guna merespons unggahan Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan Anthony Budiawan dalam media sosial pribadi.
 
Dalam akun media sosial, Anthony menyebut bahwa Indonesia masuk negara gagal sistemik. Pasalnya, APBN tahun 2022 memiliki pembayaran bunga pinjaman lebih besar daripada biaya kesehatannya.
 
 
"Indonesia masuk negara gagal sistemik. APBN 2022: Biaya Kesehatan Rp176,7 T; Bunga pinjaman: Rp386,3 Tr. UN Chief, António Guterres mengatakan, negara yang membayar bunga pinjaman lebih besar dari anggaran kesehatan atau pendidikan, masuk kategori negara gagal sistemik," cuit Anthony Budiawan, dikutip Rabu (19/7).
 
Merespons pernyataan itu, Yustinus menilai pernyataan Anthony Budiawan tidak berdasar. Pasalnya, menurut data yang turut dilampirkan Yustinus dalam cuitan menyebut bahwa anggaran pendidikan dan kesehatan untuk tahun 2022 realisasinya mencapai Rp 649,3 triliun.
 
Bahkan, anggaran tersebut lebih tinggi dari realisasi belanja bunga utang sebesar Rp 386,3 triliun. Sementara itu dalam pagu APBN 2023, total anggaran pendidikan dan kesehatan mencapai Rp 791 triliun. Nilai ini juga lebih besar dari pagu anggaran belanja bunga utang, yakni sebesar Rp 441,4 triliun.
 
"Penilaian ini tidak berdasar! Indonesia bukan negara gagal. Justru kita masuk “upper middle income country” dg pertumbuhan ekonomi stabil & tinggi 5 persen. Total anggaran pendidikan & kesehatan 2022 adalah Rp 649 T atau 168 persen dari belanja bunga Rp 386 T. Tahun 2023 bahkan naik!," balas Yustinus.
 
Kemudian, Yustinus juga menegaskan bahwa Indonesia jauh dari negara gagal sistemik. Ekonomi Indonesia tumbuh stabil di atas 5 persen pada 6 kuartal berturut-turut.
 
Selain itu, Indonesia tidak pernah gagal bayar sepanjang sejarah. Buktinya peringkat kredit Indonesia di tingkat layak investasi. Lembaga pemeringkat global, Standard & Poor's (S&P), mengafirmasi peringkat kredit Indonesia bertahan di posisi BBB outlook stabil.
 
"Keputusan mempertahankan rating tersebut merupakan cerminan dari kesuksesan Indonesia dalam melakukan konsolidasi fiskal yang cepat dan didukung oleh pertumbuhan pendapatan yang solid. Termasuk kebijakan fiskal-moneter yang terkalibrasi dengan baik," tandasnya.
Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore