Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Juni 2024 | 20.43 WIB

Pendapat Menteri Luhut soal Starlink Ditanggapi Positif Pengamat TIK

Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bersama Elon Musk. - Image

Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bersama Elon Musk.

JawaPos.com - Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meyakini menara telekomunikasi BTS tidak diperlukan lagi seiring dengan kehadiran Starlink. Layanan internet milik Elon Musk tersebut, kata Luhut dapat membuat masyarakat bisa memperoleh akses layanan internet, pendidikan, hingga kesehatan yang lebih baik.

Pendapat Menteri Luhut tersebut ditanggapi positif Ketua Komite Penyelarasan Teknologi Informasi Komunikasi (KPTIK). "Pernyataan Menteri Luhut itu, sama sekali tidak ada kaitannya dengan operasional BTS milik operator selular. Tetapi, yang disorot lebih kepada pembangunan BTS Kementerian Kominfo untuk daerah 3T yang saat ini lagi terjerat kasus korupsi (jadi tidak perlu dibangun kalau ada Starlink)," ujar Dedi dalam keterangannya, Rabu (12/6).

Secara teknis, lanjut Dedi, keberadaan tower BTS menjadi kurang dibutuhkan ketika layanan yang sama masuk Indonesia. Artinya tidak diperlukan lagi banyak membangun infrastruktur tower.

"Misalnya untuk Puskesmas dan sekolah bisa share bersama di warung seperti halnya Program Warkop Digital dan program Warung NKRI Digital milik BNPT. Jadi, tempat titik berkumpul di desa untuk sharing internet bisa berjalan," terang Dedi

Tenaga Ahli Kewirausahaan dan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) pada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini, menyarankan kepada pihak untuk tidak berkomentar negatif di media. Terutama yang ingin mendesak pemerintah untuk menghentikan operasional Starlink gara-gara panik atau takut kalah bersaing.

"Persoalan utama saat menggunakan Starlink, masalah layanan internet di wilayah yang temasuk 3T tidak perlu lagi menunggu dibangunkan menara BTS. Hadirnya Starlink bisa memberikan layanan kesehatan dan pendidikan ke masyarakat dengan jarak jauh," urai Dedi.

Dedi melihat, ternyata bukan hanya operator satelit yang merasa terganggu dengan kehadiran Starlink dan pernyataan Menteri Luhut. Malah ada pihak asosiasi dan organisasi yang tidak ada kaitan langsung, ikutan ribut dan berkomentar menambah keruh suasana.

"Mungkin kelompok ini difasilitasi oleh media online untuk bersuara. Mungkin karena pemiliknya punya kepentingan atau karena nggak tahu masalahnya. Seharusnya tidak perlu meradang atau malah baper," tuturnya.

Ia menjelaskan, meskipun layanan internet dari perusahaan ISP kalah jangkauan dari Starlink, tapi kapasitasnya unlimited atau tanpa batas, karena menggunakan fiber optic. Sementara Starlink pasti terbatas karena menggunakan satelit, sehingga tidak perlu ditakuti berlebihan.

"Jadi, antara Starlink dan pengusaha ISP sangatlah berbeda. Jadi, nggak perlu diributkan lagi, karena tidak ada yang terganggu dengan kehadiran Starlink yang menggunakan internet," pungkas Dedi.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore