
Putri KW. (Dok: PBSI)
JawaPos.com – Capaian runner-up Swiss Open oleh Alwi Farhan (tunggal putra) dan Putri Kusuma Wardani (tunggal putri) di St. Jakobshalle, Basel, Minggu (15/3) menyisakan pekerjaan rumah. Yakni, Alwi dan Putri dituntut membenahi kekuatan fisik mereka.
Dalam partai final, Putri ditundukkan wakil Thailand, Supanida Katethong (11-21, 15-21) dan Alwi harus mengakui keunggulan pebulu tangkis Jepang, Yushi Tanaka (18-21, 12-21).
Menurut Alwi, main beruntun di All England lalu Swiss Open menuntut fisik yang prima dan konsisten. Di Swiss Open, Alwi mengakui bahwa fisiknya tidak seratus persen.
”Dengan kondisi yang sudah tidak seratus persen, saya tetap mencoba berusaha. Jadi pengalaman untuk pertandingan berikutnya,” kata pemain kelahiran Solo tersebut.
Sementara bagi Putri, rekor pertemuan dengan Supanida memburuk dengan 2-4. Sebelum di Swiss Open, Putri juga takluk dalam final SEA Games 2025 (18-21, 16-21). ”Pertemuan terakhir di SEA Games saya kalah. Jadi, di saya dari awal berpikir pengin main terbaik, bisa mengeluarkan semuanya,” ucapnya.
Hanya, di lapangan, Putri merasa dalam tekanan Supanida yang menggunakan strategi membatasi bola atas dan mempercepat tempo. Karena itu, anggota polisi wanita merasa harus punya fisik lebih kuat lagi. ”Sebenarnya tetap bersyukur bisa runner-up. Yang disayangkan, permainan saya tidak keluar dan kurang puas dengan mainnya,” tuturnya.
