Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 Januari 2025 | 13.45 WIB

Kaum Umur Panjang

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Aku tak menjawab, lalu menyiapkan busur dan panahku dengan cepat. Saat sudah siap, kulesatkan anak panah dengan ketepatan penuh, menyasar bagian kepala agar anjing itu langsung mati.

Anak panahku menancap dalam di salah satu mata anjing itu. Ia mendengking. Aku berlari dan menghantamkan parang tepat di tengah tubuhnya. Darah bercipratan mengenai tanganku. Pria tua itu sudah berada di sebelahku. ”Aku mau paha dan kepala,” ucapnya. Aku mengangguk dan menetak bagian yang diinginkannya. Kami duduk bersila, memakan anjing itu di tempat terakhir hidupnya.

”Kenapa rencanaku bisa gagal?” tanyanya saat mulutnya masih sibuk mengunyah. Ia tampak lahap mencecap-cecap daging anjing.

Aku menggeleng. ”Sudah kulakukan semua yang kau minta,” jawabku.

”Bisa jadi rencana itu gagal karena kau tak sungguh-sungguh mau melakukannya,” ucapnya setengah menggumam.

Aku tak menjawabnya.

”Kau mau tahu alasanku menyusun rencana kematianku?” tanyanya setelah dia menghabiskan seluruh paha anjing yang ada di tangannya.

Aku mengangkat kepala, menatap mata kecilnya yang memantulkan sinar bulan purnama, setengah tak percaya karena tidak biasanya dia menjelaskan rencananya, apalagi rencana kematiannya.

”Kematian adalah hal yang paling diinginkan orang-orang seperti kami; apalagi jika tak ada teman untuk menghabiskan waktu yang panjang. Hidup yang panjang membuat kami enggan berkelompok. Selain karena bosan, kami juga takut. Hidup berkelompok akan membuatmu lebih mudah ditemukan dan dibakar oleh manusia.”

Takut? Apa maksudnya dengan takut? Padahal, dia bersikap ramah dan senang berkumpul dengan semua manusia yang ditemuinya. Tidak pernah kulihat sedikit pun ketakutan tebersit dari dirinya, bahkan ketika dia ikut membantu warga desa membakar hewan ternak yang terjangkit penyakit.

Dia menjeda ceritanya, lanjut melahap bagian kepala. Jari telunjuknya berusaha mencongkel mata anjing yang masih utuh; anak panahku meleburkan mata satunya.

”Aku tak suka berhitung, apalagi yang berkaitan dengan umur. Kurasa, kaum kami memang tak suka berhitung. Namun, tidak dengan Mere. Dia suka berhitung. Karena itulah, aku menikahinya.”

Mere? Menikah? Pria tua ini pernah menikah? Pandanganku tentangnya menjadi sedikit berubah; seperti suasana yang menjadi gelap akibat bulan yang dikerubungi awan.

”Mere menghitung umurnya, berapa manusia yang pernah dimakannya, berapa piala darah yang sudah diminumnya, berapa kali dia bercinta dengan manusia, anak-anaknya yang dibuang saat masih balita, atau yang dipeliharanya sampai rasa bosan membuatnya meninggalkan mereka. Mere menghitung itu semua. Dia merasa, dengan menghitung, setiap waktu yang dijalaninya akan lebih berharga. Padahal, jika kita berumur panjang, waktu sudah tak lagi memiliki makna.”

Dalam benakku, istrinya terdengar seperti sosok yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan dirinya. Kubayangkan Mere adalah sosok yang seterang langit siang saat musim panas sekaligus bisa membakar dengan sinarnya. Apakah dia berambut panjang sampai pinggang atau hanya sampai menyentuh atas bahunya? Bagaimana suaranya ketika memanggil nama orang di hadapanku yang sampai sekarang tak pernah berani kutanyakan? Kudengar embusan napasnya semakin berat, apakah dia menangis?

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore