
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Gendon menjawab tanpa ragu. ”Saya akan mencoba!”
Tanpa ampun, berdarah-darah, dan lebih sadis bila dibandingkan dengan pelatihan anggota pasukan khusus adalah cara Ali Moestopo mendidik agar Gendon bisa menjadi copet yang baik dan benar. Setiap malam, setelah warung tutup, dan tiang listrik dipukul 12 kali, Ali Moestopo memaksa Gendon mencelup-celupkan jari tengah dan telunjuk ke dalam panci hingga ratusan kali. Isinya pasir yang sudah dipanaskan selama berjam-jam hingga hampir membara walaupun belum sampai mendidih sebab sudah pasti susah sekali, juga butuh waktu yang sangat lama.
Pendadaran penuh pengorbanan, tetesan keringat, dan jerit kesakitan itu dianggap cukup oleh Ali Moestopo setelah jari tengah dan telunjuk Gendon menghitam, mati rasa, dan tulangnya mungkin sudah gosong. Latihan model Shaolin tersebut membuat dua jari itu bisa bergerak secepat kilat, sekuat baja, dan selengket magnet.
Gendon lalu menjelajah dari terminal ke terminal, stasiun ke stasiun, dan dari pasar ke pasar. Wilayah kerjanya bukan hanya Jakarta, tapi melebar ke Karawang, Bekasi, Bogor, Depok, dan Serang. Wajah dan kulitnya yang putih bersih memudahkan Gendon menjalankan aksinya sebab orang-orang mengiranya mahasiswa atau karyawan perusahaan asuransi jiwa sehingga tak berkeberatan ketika Gendon berdiri di dekat mereka.
Terbukti Gendon sangat ahli dalam bidangnya. Ketika pencopet lain harus memepet-mepet tubuh calon korbannya saat hendak mengambil dompet, Gendon tak perlu melakukannya. Sebagai gambaran, ia sanggup mencopet dompet yang sedang dipegang pemiliknya tanpa si pemilik menyadari.
Seperti Robin Hood yang suka membagi-bagikan hasil rampokannya, Gendon pun demikian halnya. Para pelacur memuja, tukang becak menghormati, pengasong, dan para pengamen menganggap Gendon sebagai saudara dan bersedia menjadi antek saat Gendon sedang menjalankan aksinya.
Entah mendapat info dari mana, setelah bertahun-tahun pada akhirnya bapak dan ibunya tahu profesi yang dijalani Gendon; bukan sales dompet kulit seperti yang dikatakannya. Sebagai ungkapan kemarahan dan kekecewaan, bapak-ibunya mengembalikan semua barang yang pernah mereka terima dari Gendon: televisi, kulkas, gelang, kalung, perabotan rumah. Lalu sambil menangis bapaknya menceritakan kenangan buruknya saat kecopetan.
”Tahukah kamu? Waktu itu agar kalian tetap bisa makan, ada ongkos ke sekolah, mengantongi uang saku, ibumu terpaksa menjual kalungnya!” Bapaknya mengelap air mata. ”Bagaimana perasaanmu jika orang yang kamu copet itu ternyata keadaan ekonominya sama seperti orang tuamu!”
Gendon benar-benar terpukul. Ucapan itu tak ubahnya uppercut yang menghantam rahangnya dan membuatnya sempoyongan; hampir roboh.
”Iya, Pak!” Gendon menunduk. ”Saya akan berhenti mencopet!”
Baca Juga: Simbol Reflektif Perjalanan Senyap
***
Pelaksanaan eksekusi hukuman mati dua jam lagi. Penjaga telah memberi Gendon kesempatan mengajukan permintaan terakhir. Mula-mula Gendon ingin bertemu istri, kedua anak, serta bapak dan ibunya. Namun, dengan pertimbangan tak suka melihat air mata, Gendon membatalkan keinginannya. Sebagai ganti ia minta kopi hitam tanpa gula dan Sukun kretek; rokok yang sering ia curi dari kantong bapaknya waktu ia masih remaja.
Sambil mencecap kopi dan memandangi gumpalan asap yang berpendar-pendar ditimpa remang cahaya, Gendon mengilas balik bagian terakhir dari perjalanan hidupnya. Betapa orang tua ternyata Tuhan yang kelihatan. Pantang dilanggar perintahnya. Bisa celaka!
Mestinya Gendon menepati janjinya dan tidak tergoda dompet yang menyembul dari saku celana jins laki-laki bertubuh kekar itu. Namun, beralasan ingin menjadikannya sebagai dompet terakhir, Gendon melanggar janjinya. Minuman bersoda itu tidak jadi dibelinya. Sambil berjalan keluar dari supermarket, dompet itu dicopetnya. Dari situlah celakanya bermula.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
