Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 September 2024, 17.57 WIB

Tukar Guling

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

”Iya, ini namanya tukar guling, sekadar melepas jenuh. Sama-sama impas. Tidak ada yang dirugikan. Kau bersiap saja, aku pergi dulu,” hendak pergi, namun berhasil kutahan.

”Tunggu dulu! Tukar guling? Apa maksudmu?” kutatap wajahnya lekat-lekat.

”Iya, tukar bini. Hanya sementara. Ini memang sudah biasa!” menyentak, lalu pergi begitu saja dengan kesal.

Aku terpaku diam, mencerna setiap ucapannya. Sudah biasa? Sejak kapan?

Entah sudah berapa tahun hidup bersama dalam simpul tali pernikahan, baru malam itu mengetahui adanya kebiasaan tukar guling. Kebiasan dari mana? Kebiasan di desa itu yang luput dari pengetahuanku? Atau kebiasaan gila di antara sesama sopir? Padahal yang kutahu, para suami rela bertaruh nyawa demi harga dirinya. Lebih baik mati mengacungkan arit daripada hidup menggelung punggung membiarkan istrinya digoda.

Ketika ayahmu pergi dengan sepeda motornya, kuusir lelaki di ruang tamu itu. Rasa muak dan jijik membuatku tak bisa mengendalikan sikap. Akan tetapi, pengusiran yang kulakukan sia-sia, dan lelaki yang semula bersikap manis itu berubah jadi sosok beringas sebagaimana hewan lapar. Memaksakan kehendaknya terhadapku, seolah tak mau dirugikan.

Ketika dia mencoba melepaskan jilbab dan bajuku, barulah aku mengerti bahwa diriku tak lebih dari lepet janur, sementara ayahmu sedang memburu pisang goreng.

Apakah kepatuhan semacam itu yang diinginkan ayahmu? Menjadikan diriku sebagai santapan orang, sedangkan dirinya memburu kesenangan. Perempuan hanya dijadikan barang pertukaran!

Kemarahan memberiku kekuatan baru untuk berontak dan melawan. Tak kubiarkan tangan lelaki itu menyentuh kulitku.

Entah bagaimana, tiba-tiba ada darah menyembur seperti slang bocor, dan di mataku yang terlihat hanya merah. Hitam kopi di lantai bercampur darah. Mataku nanar. Erang kesakitan dan tubuh yang terkapar membuatku tersadar, mendadak ketakutan. Pecahan gelas yang tergenggam dengan tangan gemetar segera kulempar.

Barangkali, kegaduhan itu yang membuatmu terbangun dan melangkah keluar dari kamar. Kau berdiri di ambang pintu sebagaimana sekarang. Akan tetapi kali ini, salak petasan, tabuhan rebana dan riuh pembacaan salawat Thola’al Badru di luar yang menyentak kesadaranku, bukan isak tangismu.

Kulihat wajahmu yang tadi tampak heran penuh tanya kini berubah tegang.

”Kenapa berdiri di sini? Ayo, bersiap! Pengantin prianya sudah datang!”

Seseorang yang menghambur dari belakang sedikit menyenggol pundakku. Perempuan muda yang kutebak sebagai perias itu membetulkan letak karmelok dan kembang rumbai yang menjuntai di dadamu, memeriksa riasan, memperhatikan posisi cunduk melati dan cunduk mentul, membetulkan lipatan sampir, lalu memperhatikan tubuhmu secara keseluruhan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore