Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 September 2024 | 14.27 WIB

Jarum Jaran Jamudin

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Bila nasib mujur, kami akan ditarik sebagai pegawai kontrak di kementerian tertentu atau jadi staf atau tenaga ahli di Senayan. Tapi bila lacur, kami akan bekerja sebagai palugada, apa yang lu mau gue ada. Kadang kami jadi penulis pesanan untuk senior-senior yang juga politikus itu. Tulisan-tulisan itu kami kirim ke mereka, selanjutnya para senior itu akan mengirimkannya ke media massa dengan nama dan jabatan mereka. Kalau artikel itu dimuat, senior yang hanya setor nama di artikel itu akan mengisi saldo rekening kami. Lumayanlah buat sehari-dua hari hidup di Jakarta. Dan kalau ada dari kami yang tak bisa menulis, dia akan meminta juniornya di Jogja yang bisa menulis untuk mengerjakannya. Di kantor departemen yang lebih mirip penampungan kaum palugada itu, kami jadi apa saja dan kerja apa saja sesuai perintah para senior. Yang penting bibir terus mengepul dan perut tak berkeroncong.

Staf dicinta, panggilan pun tiba. Akhirnya, Cak Dalimun, wakil rakyat di Senayan sekaligus seniorku, memintaku bekerja kepadanya. Sejak itu pula Kang Marijo meminta beberapa persen gajiku untuknya. Aku setor saja karena berkat dialah aku di Jakarta hingga aku dapat kerja yang membanggakanku di hadapan keluarga dan para juniorku di Jogja. Awalnya kerjaku membawakan tas bosku. Setelah itu aku membuat dan mengarsipkan surat-surat yang keluar masuk. Aku juga mengatur jadwalnya. Tapi, lama-lama, tugasku lebih dari itu.

Cak Dal, begitu aku memanggilnya, kadang menyuruhku mengambil uang di bapak ini atau di ibu itu, di istansi ini atau di perusahaan itu. Untuk urusan uang, senior yang satu ini lebih sering bertemu langsung denganku. Kalaupun via telepon atau pesan singkat, dia pakai kode yang saat bertemu sebelumnya telah kami sepakati. Misalnya, ”Ambilkan tiga kresek pisang di Pasar Pisangan, ya!” Kresek bermakna ratus, pisang berarti juta, dan nama pasar mengarah pada lokasi dekat rumah orang yang harus kutuju. Kalau miliar, dia akan menyebut kardus. ”Din, ambil dua kardus apel di Pasar Pamulang sekarang!” Begitu perintahnya suatu ketika. Tapi kalau berupa dolar, dia akan menyebut negara atau kota tertentu sesuai asal mata uang yang akan kuambil. Jeruk singapura, misalnya, atau pepaya california.

Cak Dal baik, dia sering memberiku bonus di luar gajiku. Dengan semua itu aku bisa mengirim uang bulanan lebih untuk ibu di kampung juga dua adikku di pesantren. Sejak bapak tak ada dan ibu makin sepuh, akulah penyangga tiang-tiang ekonomi keluarga kami.

Karier politik Cak Dal moncer. Setelah belasan tahun menjadi wakil rakyat di Senayan, dia diangkat jadi menteri. Ketua partai mengajukan namanya ke presiden karena, kabarnya, juraganku ini paling mahir mencari uang untuk partai. Walau akulah yang sebenarnya bergerilya di lapangan. Tapi aku bersyukur, dari sanalah aku punya banyak pengalaman dan banyak kenalan, tentu juga proyekan.

Aku pun makin sibuk karena sejak Cak Dal jadi menteri aku makin sering diminta mendatangi bapak ini dan ibu itu, instansi ini dan instansi itu, perusahaan ini dan perusahaan itu. Aku juga sering turun ke berbagai provinsi, berbagai kota dan kabupaten, untuk mengawal program-program kementerian sekaligus menjemput setoran pejabat-pejabat lokal yang ingin naik pangkat. Dari program dan setoran itu, aku tetap punya kebiasaan menyimpan uang sisa acara, atau kupaksa agar bersisa.

Uang itu tak hanya kubelikan Pajero Sport dan rumah di pinggiran Jakarta, tapi juga kusimpan. Simpananku, tapi ssssttt! tolong jangan bilang siapa-siapa, baru 17-an miliar. Masih sedikit karena uang ini akan kupakai mencalonkan diri sebagai calon bupati di daerahku akhir 2024 nanti. Aku butuh lebih banyak lagi untuk membeli suara agar aku terpilih. Karena itu, akhir-akhir ini aku sering bertemu dengan para taipan. Kalau tak bertambah, uang segitu hanya cukup untuk nyalon kepala desa. Maaf, ini bukan kelasku, tapi mungkin kelasmu!

Cak Dal terkena operasi tangkap tangan. Untunglah aku lolos, setidaknya sementara ini, namaku tak disebut-sebut dalam konferensi pers pada setiap pemberitaan kasusnya. Kesalahan Cak Dal satu, dia terlalu percaya kepadaku, padahal dalam setiap operasi aku selalu sigap membersihkan jejakku. Tapi aku tetap waspada kalau-kalau ada orang lain (tepatnya kawan-kawanku sendiri di ”Departemen Keluh Kesah” yang sejak dulu ingin berada di posisiku), mengorek-ngorek bukti keterlibatanku.

***

Kekhusyukanku bersalawat qiyam buyar oleh rangkulan kuat dari belakang. Belum sempat kubalikkan badan, tiba-tiba sudah ada tangan yang menggenggam tanganku, memutarnya ke belakang, lalu krak! Kurasakan benda kecil tapi keras melingkar terpasang di pergelangan tangan. Ternyata, sejak awal salawatan, aku dalam kepungan.

Sebagaimana ribuan hadirin yang bertanya-tanya malam itu, kau tak perlu ikut bertanya-tanya siapa mereka serta ke mana mereka menggiringku. Kau pasti mengira aku dibawa ke gedung di mana para wartawan sudah berkerumun dan secepatnya mengirimkan informasi tentangku ke seluruh penjuru tanah air.

Namun rupanya mobil yang membawaku bukanlah menuju gedung itu. Mereka justru membawaku ke satu tempat yang tak bisa kuceritakan di sini kepadamu. Dengan syarat-syarat tertentu, mereka menjamin akan menyelamatkanku, bahkan akan memfasilitasi dan mengamankan pencalonanku. (*)

---

AHMADUL FAQIH MAHFUDZ, Lahir dan bermukim di Dusun Sumberwangi, Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore