
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Oleh: ARAFAT NUR
---
RAMBUT Karto kusut, wajah muram, mata merah, tulang pipi semakin menonjol, akibat mabuk dan kalah judi semalam, juga malam sebelumnya, dan malam-malam sebelumnya lagi. Hari ini dia ingin tenang sebentar, tanpa dirusuhi keributan tangis bayinya. Dia sengaja menghindar dan berdiam di depan rumah untuk mengabaikan istri dan bayinya yang menyebalkan itu. Karto muncul di teras rumah mungilnya sambil bergumam kesal, ”Bayi sialan. Kenapa rewel terus?!”
Sejenak mata merahnya agak sulit memandang sekeliling oleh teriknya cahaya matahari menjelang siang. Dari balik jalan yang terhalang menara masjid, muncul Ratmi, pelacur yang sudah sepasar pulang dari kota. Perempuan itu tampak semakin menarik, semakin muda, rambut pirang tersemir, baju kaus sempit, dan celana pendek yang memamerkan paha mulusnya. Seingatnya dulu, dada di balik kaus sempit itu tidak semenonjol sekarang.
Tanpa terduga, Pak Tumin, imam masjid, yang begitu melihat Ratmi segera menyongsong dengan langkah cepat dan tubuh agak membungkuk, lalu menyalami pelacur itu dengan takzim. Imam masjid begitu menghormati Ratmi, melebihi penghargaannya terhadap kiai-kiai pondok yang pernah berkunjung ke sana dan membuat kas masjid banyak berkurang.
Penduduk desa yang sehari-hari banyak terbenam dalam berbagai jenis perjudian, mabuk, dan sibuk mengurus ayam aduan secara tulus begitu menghargai Ratmi yang setiap kali pulang dari kota selalu memberikan jutaan uang untuk pembangunan Masjid Ar-Rahman. Juga membagikan oleh-oleh untuk tetangga, dan uang jajan untuk anak-anak yang ditemuinya di jalan. Dia baik sekali, dermawan, dan cantik.
Ketika dua orang itu pergi –seperti sepasang manusia yang sepakat menuju rumah bordil– kekalahan judi slotnya semalam muncul lagi yang membuat hati dan pikiran Karto rusuh. Ditambah lagi pekikan bayi yang membuatnya ingin cepat-cepat masuk untuk menampar istri dan mencekik bayinya. Suara istrinya yang berusaha mendiamkan bayi itu juga mengandung kekuatan hitam yang menusuk-nusuk gendang telinganya.
”Apa sudah kau usapkan apemmu ke kepalanya?” tanya Karto menahan amarah.
”Sudah berkali-kali, Mas!” dengus Sumini, istrinya.
”Kenapa masih saja rewel?”
”Mana aku tahu!”
”Coba kau usapkan lagi.”
”Pegang sebentar!” Sumini mengacungkan bayinya yang langsung disambut Karto dengan sungkan.
Tangan Sumini langsung menyingkap rok, meraba selangkanya, lalu telapak tangan bekas rabaan itu diusapkan ke kepala bayinya. Itu diyakini sebagian orang Jawa bisa mengatasi bayi rewel.
”Kenapa bau kepala anak ini pesing sekali?”

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
