Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Agustus 2024 | 16.28 WIB

Karto Tinggal di Desa yang Damai

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Oleh: ARAFAT NUR

---

RAMBUT Karto kusut, wajah muram, mata merah, tulang pipi semakin menonjol, akibat mabuk dan kalah judi semalam, juga malam sebelumnya, dan malam-malam sebelumnya lagi. Hari ini dia ingin tenang sebentar, tanpa dirusuhi keributan tangis bayinya. Dia sengaja menghindar dan berdiam di depan rumah untuk mengabaikan istri dan bayinya yang menyebalkan itu. Karto muncul di teras rumah mungilnya sambil bergumam kesal, ”Bayi sialan. Kenapa rewel terus?!”

Sejenak mata merahnya agak sulit memandang sekeliling oleh teriknya cahaya matahari menjelang siang. Dari balik jalan yang terhalang menara masjid, muncul Ratmi, pelacur yang sudah sepasar pulang dari kota. Perempuan itu tampak semakin menarik, semakin muda, rambut pirang tersemir, baju kaus sempit, dan celana pendek yang memamerkan paha mulusnya. Seingatnya dulu, dada di balik kaus sempit itu tidak semenonjol sekarang.

Tanpa terduga, Pak Tumin, imam masjid, yang begitu melihat Ratmi segera menyongsong dengan langkah cepat dan tubuh agak membungkuk, lalu menyalami pelacur itu dengan takzim. Imam masjid begitu menghormati Ratmi, melebihi penghargaannya terhadap kiai-kiai pondok yang pernah berkunjung ke sana dan membuat kas masjid banyak berkurang.

Penduduk desa yang sehari-hari banyak terbenam dalam berbagai jenis perjudian, mabuk, dan sibuk mengurus ayam aduan secara tulus begitu menghargai Ratmi yang setiap kali pulang dari kota selalu memberikan jutaan uang untuk pembangunan Masjid Ar-Rahman. Juga membagikan oleh-oleh untuk tetangga, dan uang jajan untuk anak-anak yang ditemuinya di jalan. Dia baik sekali, dermawan, dan cantik.

Ketika dua orang itu pergi –seperti sepasang manusia yang sepakat menuju rumah bordil– kekalahan judi slotnya semalam muncul lagi yang membuat hati dan pikiran Karto rusuh. Ditambah lagi pekikan bayi yang membuatnya ingin cepat-cepat masuk untuk menampar istri dan mencekik bayinya. Suara istrinya yang berusaha mendiamkan bayi itu juga mengandung kekuatan hitam yang menusuk-nusuk gendang telinganya.

”Apa sudah kau usapkan apemmu ke kepalanya?” tanya Karto menahan amarah.

”Sudah berkali-kali, Mas!” dengus Sumini, istrinya.

”Kenapa masih saja rewel?”

”Mana aku tahu!”

”Coba kau usapkan lagi.”

”Pegang sebentar!” Sumini mengacungkan bayinya yang langsung disambut Karto dengan sungkan.

Tangan Sumini langsung menyingkap rok, meraba selangkanya, lalu telapak tangan bekas rabaan itu diusapkan ke kepala bayinya. Itu diyakini sebagian orang Jawa bisa mengatasi bayi rewel.

”Kenapa bau kepala anak ini pesing sekali?”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore