
ILUSTRASI
Sambil menarik bahuku agar lebih mendekat, Elyas berbisik: ”Coba perhatikan.” Maka aku memperhatikan apa yang ditunjuknya. Sebuah rumah. Dua lantai. Dengan gerbang setinggi hampir dua meter.
NAMUN, aku tidak melihat apa-apa, kecuali rumah biasa. Kami mengamat-amati rumah tersebut sambil bergelayut di sebatang pohon, yang tidak kuketahui namanya, beberapa meter dari rumah tersebut.
”Apa?” tanyaku. ”Tidak ada apa-apa kok.”
”Coba perhatikan lebih teliti. Jendela itu...” ucap Elyas.
Dua jam sebelumnya, usai rapat yang melelahkan di posko pemenangan, aku diserang rasa lapar. Sebetulnya, sejak menikah aku tidak biasa makan di sembarang tempat. Ada beberapa rumah makan langgananku, yang menurut pandangan umum cukup mahal. Namun, karena saat itu rasa lapar tak terganggungkan, aku terpaksa memilih rumah makan yang paling dekat dari posko. Maka singgahlah aku di Rumah Makan Surga yang terletak di Jalan Banda, sama seperti posko pemenangan itu. Aku memesan sate kambing dan es jeruk.
Saat menunggu pesanan diantar, seseorang menepuk bahuku dari belakang. Itu Elyas. Ia memesan rawon dan air mineral, lantas tanpa izin langsung duduk satu meja denganku. Setelah basa-basi sebentar, kami berbincang-bincang akrab sambil mengunyah makanan. Elyas kawan lamaku; kawan di sekolah menengah dulu. Badannya terbilang tambun, matanya sipit seperti garis yang tak sengaja dibuat. Ia senang sekali makan. Mungkin tidak ada hal lain yang lebih menyenangkan buatnya, kecuali makanan. Sewaktu di sekolah menengah sebetulnya aku tidak begitu menyukainya. Ia terlampau bengal dan suka mengambil risiko-risiko yang tidak perlu. Suatu hari, misalnya, dengan kesombongan tertentu ia merangkak melewati kawat berduri yang dibentangkan sebagai pagar kebun labu. Karena badannya tambun, ia tidak berhasil melewati bentangan kawat itu. Bokongnya tertancap duri besi. Aku yang kemudian harus repot memanggil orang untuk menolongnya.
Sebetulnya, Elyas mulai bertingkah semacam itu setelah suatu peristiwa yang dialaminya ketika kami baru masuk kelas satu. Saat itu Elyas menghilang. Orang tuanya mendatangi sekolah untuk mengabarkan sekaligus mencari keberadaan Elyas. Sudah tiga hari Elyas tidak pulang dan selama itu pula ia tidak masuk sekolah. Orang tuanya tidak berhasil melacak keberadaannya. Begitu juga pihak sekolah. Mereka kemudian sepakat melaporkan kasus tersebut ke polisi setelah Elyas menghilang selama seminggu.
Namun, tiba-tiba saja Elyas muncul. Ia pulang tanpa kekurangan apa-apa, bahkan ia pulang dengan suatu kelebihan. Berat badannya bertambah dan pipinya jadi lebih gembul. Ketika orang tuanya bertanya, Elyas cuma bilang bahwa ia tidak ke mana-mana. Ia tetap di rumah dan pergi sekolah seperti biasa. Elyas bahkan terheran-heran kenapa orang-orang menganggap ia menghilang.
Sejak peristiwa itu Elyas agak dekat denganku. Aku tidak tahu sebabnya. Saat itu aku tidak begitu memperhatikan peristiwa-peristiwa di sekitarku, termasuk peristiwa menghilangnya Elyas –meski sesekali aku berkomentar, aku tidak pernah sungguh-sungguh memikirkannya.
Ketika kami makan malam di Rumah Makan Surga, Elyas kembali menyinggung peristiwa menghilangnya ia dulu. Namun, ceritanya kali ini agak berbeda. Ia bilang, sebetulnya waktu itu ia dibawa genderuwo. Aku tidak terperanjat mendengar pengakuannya. Bagiku tidak penting sama sekali, apakah Elyas diculik genderuwo atau cuma mau bikin sensasi. Sekarang kami sudah bukan kanak-kanak lagi. Hanya, mau tidak mau aku tetap membayangkan sosok genderuwo; sosok serupa monyet besar berbulu lebat dan bertampang menyeramkan, menggendong tubuh Elyas yang saat itu masih kurus dan membawanya memasuki alam gaib.
”Aku dibawa ke sebuah rumah besar. Di rumah itu banyak orang. Mereka semua berpakaian rapi dan bersih. Selama aku di sana, bersama orang-orang itu, kegiatan kami cuma makan. Banyak sekali makanan, seperti tidak ada habisnya. Semuanya enak-enak. Dan aku seperti tidak kenyang-kenyang. Begitu juga semua orang di rumah itu. Mereka terus-menerus makan. Sampai tubuh mereka membengkak, menggelembung seperti balon. Dan, kautahu, salah seorang yang ada di rumah besar itu masih kulihat sampai sekarang. Ia tinggal di kota ini.”
”Sebentar,” selaku setelah meneguk es jeruk usai potongan daging terakhir masuk ke perutku. ”Kaubilang genderuwo. Seperti apa rupanya?”
”Nah itu, jangan kaubayangkan genderuwo itu seperti yang diceritakan orang-orang; berbadan besar dan berbulu lebat, macam monyet. Kalau wujudnya seperti itu, mana mau aku ketika ia mengajakku ke rumah besar itu.”
Ketika Elyas mengatakan hal itu, ia sudah menghabiskan semangkuk soto, dan soto itu dipesannya bukan setelah rawon tadi, melainkan setelah seporsi pecel, seekor gurami bakar, dan seporsi bakso habis dilahapnya.
”Setelah kita makan, aku berencana mengajakmu ke rumah orang yang tadi kumaksud. Rumahnya tidak jauh dari sini. Di Jalan Irian. Kaumau kan?”
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022