
ILUSTRASI
Jauh di lubuk hati, Suto merasa tersinggung dengan segala puji sanjung itu.
”Mana ayahmu, To?” tanya Samun sambil menggerak-gerakkan kaki kuda kayu di bahunya. Ia merasa menyesal telah ikut memikul ”iblis” kecil yang suka mengajak teman-temannya membolos dari sekolah itu. Seandainya itu terjadi sebelum Suto membuat bulan dari tanah liat, tentu sudah dibantingnya bocah itu ke tanah.
”Mana ayahmu, Uto?” Samun menepuk-nepuk kaki Suto.
Tapi, Suto tidak menjawab. Bukan karena malu diketahui orang tuanya sedang kelaparan, melainkan karena tidak ada orang lain di pinggir kali itu, kecuali dirinya yang sedang mengepal-ngepalkan adonan lempung dan tai sapi seraya membayangkan rumahnya terang benderang oleh cahaya bulan dan dirinya yang sedang membaca komik.
Untuk membuat bulan, Suto memilih tanah liat yang paling baik di tepi bengawan yang membelah ladang dari selatan ke utara itu. Tanahnya masih bergetah seperti adonan tepung kanji. Kalau menemukan kerikil atau akar serabut serambut pun, akan langsung dibuangnya. Bocah itu tak ingin bulan yang dibuatnya bercampur dengan kerikil atau remah-remah sampah, yang akan merusak keindahannya. Walau sesungguhnya bulan yang asli pun memiliki banyak sekali bercak-bercak hitam, yang terlihat seperti kodok purba dari bumi. Tetapi, hal itu tidak mengurangi rasa kagum Suto pada cahaya malam yang kerap menuntunnya memilih jalan setapak bercecabang mirip jejak kaki bekisar di ladang, yang mengantarnya sampai ke Balara, untuk menonton tari-tarian pada malam penobatan pemangku adat. Walau pernah juga nyasar sampai ke Bakolo. Itu terjadi saat hujan deras dan mendung menghapus cahaya bulan di tanah.
Suto masih mengepal-ngepalkan lempung di pinggir bengawan yang mulai gelap dan ditingkahi ratapan burung pungguk di pohon anonim yang tak sempat diajarkan Tuhan kepada Adam sebelum diusir dari surga karena makan buah kepayang, ketika kerumunan orang-orang di halaman rumahnya mengingatkan Suto pada sebuah dongeng Israiliat yang pernah diceritakan guru agamanya di sekolah. Konon, setelah Musa berhasil membawa orang-orang Israel keluar dari Mesir lewat Laut Merah yang terbelah, tatkala mereka tiba di sebuah gumuk, Samiri menyuruh mereka mengumpulkan perhiasannya untuk dilebur jadi patung sapi. Setelah jadi, konon, patung sapi emas itu bisa berbunyi, seperti lenguh anak sapinya yang hilang di malam keramat, sehingga dianggap sebagai Tuhan dan disembah oleh orang-orang Israel yang sedang eksodus menuju Tanah yang Dijanjikan itu.
Menyaksikan umatnya menyembah berhala, Musa yang baru kembali dari Bukit Zion pun murka, lantas membanting papan batu di tangannya, hingga pecah berkeping-keping. Belakangan seorang ahli Semitik menyusun kembali puzzle-puzzle tulisan tangan Tuhan itu sehingga Sepuluh Perintah Tuhan kepada bangsa Israel itu mulai menerangi kegelapan dunia Timur, seperti cahaya bulan lempung yang menerangi tengah ladang.
”Jika Samiri bisa membuat patung sapi, aku lebih hebat lagi, bisa membuat bulan dari tai sapi,” kata Suto membanggakan diri di depan kawan-kawannya yang sedang makan kue cucur. Hampir saja ia mengumumkan dirinya sebagai nabi yang ke-26, tapi teman-temannya berusaha mencegah, karena Suto sering tidak naik kelas sehingga tidak pantas menjadi nabi.
Walau begitu, Suto tetap bocah yang berbakat. Aksi-aksi Suto sering membuat guru-gurunya tercengang. Suatu hari ia mengajak teman-temannya membolos untuk membuat patung kuda terbang dari tanah liat. Setelah jadi, patung-patung pegasus itu dijajarkannya di jalan setapak menuju ke rumahnya di atas bukit.
Pagi-pagi saat Suto kembali ke sekolah, seharusnya ia dihukum karena mengajak teman-temannya membolos. Tapi, guru kesenian membelanya sehingga Suto batal dihukum.
Samun yang memikul kuda kayu membanting binatang palsu itu ke tanah, hingga Suto tergeragap dan tersadar sejenak dari khayal.
Begitu cepatnya kekaguman orang-orang pada bulan berubah, dalam waktu sekejap telah menguap seperti embun di kaca. Padahal baru saja mereka mengarak Suto dengan penuh kebanggaan, sekarang sudah dihujat, bahkan diancam akan dibunuh.
”Wak Bokot, mana Suto? Gara-gara dia Tugil tidak naik kelas!” teriak Gapil seraya melecutkan cemeti ke pantat kuda kayu yang seksi.
”Suto, kenapa kamu ajak Popon mabuk?” kata Darsat sambil menghunus belati.
Suto terkejut karena tuduhan itu sudah keterlaluan, mengandung fitnah. Padahal sekali pun ia tidak pernah menyentuh minuman keras, apalagi meminumnya. Saking marahnya, ia lupa kalau itu cuma khayalan.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
