
ILUSTRASI
Sampai aku kemudian mendapat ide kembali tentang bisnis katering. Aku ingat, di suatu masa saat ayah masih hidup dan pesanan jahitan ibu membeludak, ibu memesan katering untuk kami. Satu yang kuingat, kami tak bisa memilih lauk yang kami sukai. Para pemilik katering hanya menyediakan beberapa pilihan, dan itu kupikir adalah kelemahan bisnis itu. Yang ada di kepalaku tentu revolusi dari bisnis katering yang sudah-sudah. Aku ingin ada sebuah katering yang bisa melayani semua permintaan dari pemesan.
Maka aku pun mengajukan kembali niatan itu pada paman. Seperti biasa paman bertanya, ”Kenapa katering? Bukankah itu sudah banyak?”
Maka aku menjawab dengan yakin, ”Katering yang akan kubuat sangat berbeda, Paman. Katering ini menyediakan makanan sesuai pesanan pemesannya. Jadi, ia tak harus memilih makanan-makanan yang tak disukainya. Terlebih bila ia ingin makan sehat, kita juga bisa menyiapkannya. Jadi, katering ini nantinya bisa membidik pasar dari masyarakat umum dan masyarakat yang ingin hidup sehat.”
Paman mengangguk-angguk, ”Kau tampaknya cepat belajar.”
”Tentu, Paman. Kegagalan-kegagalanku kemarin selalu menjadi pecut untuk keberhasilanku kali ini. Jadi, kali ini aku tak sekadar bisnis, bisnis, bisnis! Tapi, gagasannya jelas, narasinya juga jelas.”
”Bagus, bagus!”
Paman kemudian memberiku modal hampir Rp 20 juta. Uang itu langsung kualokasikan untuk mengubah dapur rumah dan memberi peralatan masak serta pernak-pernik katering yang dibutuhkan. Aku bahkan menggaji 2 orang tukang masak.
Kunamakan bisnis katering ini: Makanan Dariku Untukmu. Sengaja kata katering tidak kupakai karena aku ingin menghilangkan kesan sama seperti katering-katering yang sudah ada.
Sehari berpromosi di media sosial tak ada pesanan. Seminggu berpromosi dengan menyebar brosur dan voucer tetap tak ada pemesan. Sebulan berpromosi memanggil organ tunggal dan boneka angin tetap tak ada pesanan masuk.
Barulah di hari kedelapan ada telepon berdering di hape.
”Halo?” terdengar suara di seberang.
”Halo dari Makanan Dariku Untukmu,” balasku deg-degan.
”Maaf, Kak? Ini Makanan Dariku Untukmu maksudnya apa ya? Apa Kakak memberi makanan untuk anak yatim piatu? Saya dari pengurus panti asuhan ....”
Aku hanya bisa mendengus.
Sampai dua bulan berlalu, tak ada satu pesanan pun datang. Aku sadar telah membuat kesalahan fatal dengan nama bisnisku kali ini. Tapi, aku tak bisa menggantinya karena semua promosi, papan nama, dan spanduk sudah memakai nama itu. Ah, kenapa aku tak belajar dari rencana bego mengubah nama Rumah Sakit menjadi Rumah Sehat dulu?

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
