Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 Januari 2025, 16.45 WIB

Kisah Si Pemahat Wajah dan Tuan Gugu Gagap

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Syahdan, akan ada satu waktu saat angin berembus pelan menebarkan kesejukan yang samar sekaligus menguarkan aroma bunga-bunga musim semi dan seorang laki-laki –dengan baju panjang yang menutupi hingga kepalanya– terlihat berjalan di tengah-tengahnya, seakan mengiringi ke mana pun angin bergerak.

LAKI-laki itu terus berjalan sambil tak henti bersenandung kecil,


pohon-pohon yang berbahagia,

berbaik hatilah pada ranting-rantingmu,

tumbuhkan daun-daunnya,

agar dapat menjadi peneduh dalam perjalananku…

 Namun, ia menghentikan senandungnya saat ia melihat seorang perempuan yang menangis di tepi sungai dengan baju yang basah kuyup. Laki-laki itu kemudian tahu kalau perempuan itu ternyata baru saja terjun dari atas bukit untuk bunuh diri, tapi garis hidupnya ternyata belum selesai hari ini. Jadi ia selamat dan arus sungai malah membawanya ke tepian dan mempertemukannya dengan laki-laki itu.

’’Ada apa, Saudariku?” tanya laki-laki itu. ’’Kenapa engkau tampak begitu gundah?”

Dengan menangis sesenggukan, perempuan itu berkata, ’’Aku hanya ingin menyelesaikan kesedihan yang sudah kupendam bertahun-tahun. Hidupku diciptakan secara tak adil. Aku lima bersaudari dan aku adalah anak yang paling tidak menarik. Semua adikku menikah muda dengan pria-pria yang dicintainya. Mereka semua hidup berbahagia. Tapi tidak denganku. Tak ada laki-laki yang pernah tertarik denganku, mereka bahkan… melengos bila melihatku.”

Laki-laki itu terdiam sejenak, mengamati wajah perempuan itu. Ia sudah tak lagi muda, wajahnya memang tidaklah jelita, namun siapa pun yang melihatnya dapat melihat kebaikan dan ketulusan dalam raut wajahnya.

Laki-laki itu kemudian berkata, ’’Kalau itu yang membuatmu ingin mengakhiri hidup, aku akan membantumu. Tapi berjanjilah, kau akan tetap hidup dan tak menyia-nyiakan hidupmu lagi?”

Perempuan itu hanya bisa mengangguk dengan tak mengerti, ’’Tapi bagaimana... kau membantuku?” tanyanya ragu.

Laki-laki itu tak menjawab. Ia malah memejamkan mata dan menengadahkan kedua telapak tangannya. Sesaat keheningan hadir di sekeliling, lalu rasa hangat mulai menyebar di kedua telapak tangan laki-laki itu, seiring cahaya-cahaya samar bermunculan di sekitarnya. Barulah setelah itu, laki-laki itu menempelkan kedua telapak tangannya pada kedua sisi wajah perempuan itu. Ia seperti menyebarkan rasa hangat dan cahaya-cahaya samar itu di wajah perempuan itu. Pelan-pelan tangannya bergerak, seperti memijat wajah perempuan itu dengan lembut, menekan-nekan pipinya... menarik pelan kulit di sekitar matanya... dan memutar-mutarnya di sekeliling bibirnya...

Tak berapa lama, laki-laki itu menghentikan gerakan dan menarik kedua tangannya. Sejenak, perempuan itu merasakan hal yang aneh pada wajahnya. Seperti ada yang bergerak-gerak di wajahnya, entah apa itu. Ia pun cepat-cepat melihat ke arah tepian sungai. Dan betapa terkejutnya ia melihat bayangan yang muncul di permukaan sungai. Di situ terlihat wajahnya yang berbeda, wajah seorang perempuan… yang jelita.

Saat ia masih bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi, laki-laki itu sudah beranjak pergi darinya. Angin telah membawanya melanjutkan perjalanan. Perempuan itu pun hanya bisa melambai-lambaikan tangannya sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore