
Pebulu Tangkis Singapura Ronald Susilo
JawaPos.com - Kenangan Taufik Hidayat bertanding di Olimpiade Athena 2004 tak akan terlupa. Dalam event tersebut, dia meraih emas di nomor paling bergengsi, tunggal putra.
Dalam pertandingan final, Taufik mengalahkan Shon Sueng-mo dari Korea Selatan dengan dua set langsung, ketika itu penyebutan masih set, dengan 15-8, 15-7. Shon Seung-mo membatalkan terjadinya final sesama pebulu tangkis Indonesia. Di semifinal, dia mengalahkan wakil Indonesia Sony Dwi Kuncoro dengan tiga set 15-6, 9-15, 15-9.
Emas tersebut mengulangi sukses yang pernah dilalukan Alan Budikusuma pada Olimpiade Barcelona 1992. Olimpiade yang pertama kali bulu tangkis dipertandingkan. Namun, ada pebulutangkis Singapura yang ikut melapangkan jalan Taufik.
Dia adalah Ronald Susilo. Di babak kedua, dia secara mengejutkan mengalahkan unggulan pertama Lin Dan dari Tiongkok dengan dua 15-12, 15-10. Siapa yang menyangka Lin Dan yang begitu perkasa di turnamen-turnamen dan menjadi musuh terberat Taufik sudah tersingkir dulu. Hanya, di perempat final, Ronald dikalahkan wakil Thailand Boonsak Ponsana 10-15, 1-15.
Siapa Ronald Susilo? Namanya berbau Indonesia. Memang benar, Ronald punya darah Indonesia. Bahkan dia lahir di Kediri pada 6 Juni 1979. Awalnya, dia datang ke Singapura untuk mengenyam pendidikan, kebetulan ia juga memiliki hobi bermain bulutangkis. Kala itu Ronald bersekolah di Anglo Chinese School dan di sana ia bermain untuk tim bulutangkis sekolahnya.
Di tahun 1997, sebenarnya Ronald ingin pindah ke Australia untuk melanjutkan pendidikan. Tapi, krisis ekonomi yang saat itu melanda Asia dan Indonesia membuat Ronald batal.
Dia harus berpikir keras agar bisa hidup di Singapura. Karena tidak ingin menjadi beban untuk keluarganya dan tidak ingin menghabiskan uang ayahnya, Ronald pun memutuskan untuk menekuni dunia publutangkis profesional.
Tahun 1998 menjadi awal mula karier suksesnya. Ronald Susilo berhasil masuk ke dalam tim utama bulutangkis Singapura. Bahkan, empat tahun kemudian Ronald memutuskan untuk pindah kewarganegaraan.
Selama berkarier, Ronald telah meraih banyak prestasi. Sejumlah piala berggengsi pun pernah ia raih, seperti Japan Open 2004, Thailand Open 2003, dan Luxembourg Open 2006. Namun, Ronald kerap mengalami cedera yang terjadi secara berulang. Sehingga setelah 12 tahun berkarier sebagai seorang pebulutangkis, ia memutuskan untuk pensiun pada 2010. (*)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
