
COVER BUKU Kumpulan Cerpen Orang-Orang Bloomington.
BERAT bagi Hananto Widodo melepas kepergian sang ayah, Profesor Budi Darma. Kemarin pagi (21/8) penulis kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington itu berpulang. Kepergiannya bertepatan dengan pelaksanaan wisuda daring Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Begitu mendengar kabar duka tersebut, rektorat menghentikan sejenak rangkaian upacara.
Duka itu bukan hanya milik Unesa. Surabaya kehilangan. Indonesia kehilangan. Doa bersama secara virtual yang diadakan Unesa tadi malam juga diikuti tokoh-tokoh dari luar Surabaya. Di antaranya, Faisal Basri dan Eka Budianta.
"Jadilah orang yang kreatif, bukan reaktif." Nasihat itu melekat pada benak Hananto. Sebab, Budi Darma tidak sekadar menasihatkannya, tetapi juga mempraktikannya. Di mata Hananto, Budi Darma adalah sosok yang tidak pernah berhenti berkreasi. Khususnya menulis.
Menulis sudah menjadi bagian hidup Budi Darma. Suami Sita Resmiati itu menulis setiap hari. Bahkan, dia rela mengorbankan jam tidurnya untuk menuntaskan tulisan. Dalam untaian keheningan dini hari itulah karya-karya Budi Darma lahir. Salah satunya adalah cerpen bertajuk Pilot Bejo yang dalam waktu dekat diangkat menjadi film.
Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Hananto menyatakan bahwa sang ayah rajin mengunjungi mal. Baik untuk makan bersama kerabat dan keluarga maupun menemui tamu. Termasuk bertemu dengan Dewi Umaya yang menyutradarai Pilot Bejo. ’’Biasanya, Sabtu atau Minggu itu bapak ngajak ke mal,’’ ungkap Hananto kepada Jawa Pos.
Namun, semuanya berubah saat persebaran virus SARS-CoV-2 makin tidak terkendali. Rutinitas menulis pada dini hari tidak lagi Budi Darma lakukan. Bepergian ke mal, apalagi. Bapak tiga anak itu benar-benar mengurangi mobilitasnya.
Menjelang doa bersama tadi malam, Rektor Unesa Nurhasan menegaskan bahwa Budi Darma adalah sosok besar yang sangat rendah hati. ’’Beliau sangat menghormati orang lain. Bahkan yang bukan siapa-siapa,’’ ungkap guru besar yang akrab disapa Cak Hasan tersebut.
Hananto pun menyatakan, kerendahan hati adalah ciri sang ayah. ’’Jarang atau malah tidak pernah menyebutkan atau memperkenalkan dirinya sebagai Profesor Budi Darma. Bapak itu tidak suka membawa-bawa gelar,’’ paparnya.
Kendati demikian, Budi Darma adalah ayah dan pendidik yang keras dan egaliter. ’’Tapi, tetap fleksibel,’’ ujar Hananto. Budi Darma bisa menjadi kritikus yang keras, tetapi tidak pernah merendahkan. Baik dalam tutur kata maupun perilaku. Selaras dengan nama yang dia sandang. Budi yang berarti paduan akal dan perasaan yang baik. Serta, Darma yang berarti kebenaran.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022