Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 7 Januari 2024 | 15.33 WIB

Tahun, Terminasi, dan Puisi

COVER BUKU - Image

COVER BUKU

waktu yang pematang. Cahaya pun

terang. Redup pun cuma milik senja yang

petang. Siapa berkata. Puisimu adalah

sabda semesta

Pada lembar berikutnya, puisi ”Notasi, 1” dan ”Notasi, 2” mengajak pembaca menekuri makna hidup, dari kepulangan dan keberangkatan tadi, melalui notasi gamelan. Yang tampil beda dari puisi-puisi Suminto A. Sayuti sebelumnya, misalnya. Dibandingkan dengan kumpulan Malam Taman Sari, kecenderungan untuk memberi arti pada ”kelampauan (yang) ditempuh” beberapa kali membuat makna menjadi terdesak; berderap di antara disonansi, deskripsi, dan lompatan imaji.

Puisi, terutama liris, adakalanya seperti hujan akhir tahun yang mampu melarutkan debu-debu makna dan menjadikannya rintik serta rasa dalam detik dan gema peristiwa yang perlahan. Akan tetapi, puisi, bersama riuhnya medan algoritma media sosial dan evolusi otot mata dan jempol umat manusia, dapat menjelma fragmen-fragmen visual yang bergulir, bergeser, dan terburu-buru.

Terburu-buru merupakan rumus turunan waktu. Puisi di sini berperan ”memanggilnya”.

Mengingat sifat dan fungsinya tersebut, bukan kebetulan jika dalam kumpulan Ketika Diri Adalah Kepulangan dan Keberangkatan akan ditemukan ”Nina Bobo Waktu”, ”Epsiode Waktu”, ”Kain Waktu”, ”Sam-Gama Waktu”, ”Batu Waktu”, ”Tugu Waktu”, ”Cakra Waktu”, ”Bunga Waktu”, ”Lembah Waktu”, ”Sampan Waktu”, ”Tasbih Waktu”, ”Beranda Waktu”, ”Lumbung Waktu”, ”Lubang Waktu”, ”Laut Waktu”, ”Selat Waktu”, ”Memeluk Waktu”, ”Lengkung Waktu”, ”Jarum Waktu”.

Termasuk yang berkaitan dengan waktu, ”Jumanji: Selamat Datang di Belantara”, ”Jumanji: Selamat Tinggal Belantara”, ”Ketukan di Pintu Dini”, ”Ketukan di Pintu Pagi”, ”Ketukan di Pintu Siang”, ”Sebelum Pentas”, ”Seusai Pentas”, ”Malam Malang”, ”Malam Ngawi”, ”Malam Sungai Cerekang”, ”Hujan Akhir Tahun”, ”Hari-Hari Kita”, dan ”Puisi Sehari-hari”.

Ketika Suminto A. Sayuti menghadirkan waktu sebagai subjek di dalam puisinya, waktu lebih banyak pasif. Waktu tidak ditampilkan membawa konsep humanoid, kecuali ”bayi waktu” yang dininabobo dan waktu yang disam-gama, melainkan dalam konsep fisika. Waktu dipadankan dengan benda mati, yang terikat kenangan, serta pada situasi geospasial yang menandai jarak dan kepergian seperti selat dan laut.

Dalam teori fisika, kita mengenal rumus waktu yang terbuat dari jarak dibagi dengan kecepatan. Puisi tidak berperan sebagai koefisien pengganda variabel dalam ekspresi rumus tersebut, melainkan sebagai kurung buka ”(”dan kurung tutup”)” yang memerangkap apa yang telah terbagi dari jarak antara penyair dan objeknya oleh kecepatan rasa dan pikiran akibat takut melupakan momen puitik tertentu.

Itulah sebabnya dalam kumpulan puisi ini, juga dalam puisi-puisi penyair lain, akan mudah kita temui puisi penanda perjumpaan, kepergian, dan perjalanan.

Kita akan menemui puisi ”Malam Malang” yang ditandai dan dipersembahkan untuk perjumpaan dengan Joko Saryono, ”Malam Ngawi” untuk Tjahjono Widarmanto, ”Hanya Gambar yang Bisa Bicara” untuk D. Zawawi Imron, atau ”Sura-Madu” untuk Mawaidi D. Mas.

Meskipun didominasi tema waktu, puisi-puisi dalam kumpulan ini tidak menggunakan penanda waktu penciptaan seolah menegaskan lagi keinginan antiterminasi, keinginan untuk dilepaskan dari waktu itu sendiri. Mengapa?

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore