JawaPos.com - Turunnya tarif perdagangan Amerika Serikat terhadap produk Indonesia menjadi 19 persen diyakini berdampak signifikan terhadap industri pangan nasional. Dalam kesepakatan ini diketahui Indonesia sepakat membeli gandung senilai USD 500 juta dari Amerika.
Gandum ini sendiri dibutuhkan Indonesia untuk produksi berbagai jenis makanan. Seperti mie instan. Dengan begitu, kesepakatan ini diyakini tidak akan merugikan Indonesia.
“Kami melihat bahwa harapannya tidak hanya untuk konsumsi domestik, tetapi juga agar produk olahan ini dapat diekspor ke luar negeri. Kita tahu bahwa produk mie instan kita sudah berorientasi ekspor dari segi kualitas, dan dengan biaya input yang jauh lebih rendah, gandum menjadi lebih murah," kata Pengamat Ekonomi Indef Andry Satrio, Kamis (21/8).
Langkah ini diharapkan bisa membangkitkan industri dalam negeri. Sehingga, produk yang dihasilkan bisa lebih bersaing di pasar internasional.
"Namun, kami berharap industri juga akan diuntungkan, terutama karena industri makanan dan minuman belum kembali ke tingkat pra-pandemi, di mana pertumbuhannya berada di angka dua digit. Kami berharap dengan biaya input yang lebih rendah untuk produk akhir, produk olahan berbahan dasar tepung gandum ini akan lebih kompetitif di pasar global dan internasional,” lanjutnya.
Indonesia memang tidak memproduksi gandum karena faktor iklim tropis yang tidak sesuai untuk tanaman tersebut. Seluruh kebutuhan gandum nasional harus diimpor, selama ini AS menjadi salah satu pemasok utama.
Dengan adanya pemangkasan tarif ini, biaya input produksi pangan olahan, khususnya mie instan, diproyeksikan akan turun secara signifikan.
Kebijakan ini tidak hanya menguntungkan industri dalam negeri melalui penurunan biaya produksi, tetapi juga membuka jalan lebih lebar bagi produk-produk Indonesia untuk menembus pasar global. Media Firstpost pun menilai langkah ini sebagai kemenangan diplomasi ekonomi Indonesia.