Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 Juli 2025 | 23.00 WIB

Pakaian Olah Raga, Sepatu, hingga Sepeda dan Aksesorisnya dari Indonesia Disukai Pasar AS, Belanda, Jerman hingga Jepang

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. (ANTARA) - Image

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. (ANTARA)

JawaPos.com - Industri olah raga termasuk pakaian olah raga, sepatu, alat olah raga, sepeda, aksesoris, serta makanan dan minuman sehat, tengah tumbuh pesat dipicu perkembangan gaya hidup sehat. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan hal tersebut dalam acara Pameran Merdeka Fest 2025, di Jakarta, Selasa (29/7).

Berdasarkan data United Nations Commodity Trade Statistics Database (UN Comtrade) dan Badan Pusat Statistik (BPS), jelas Menperin, ekspor pakaian olah raga dari Indonesia, termasuk kaos tenis, jaket, dan celana berbahan dry fit maupun polyester performance, mengalir ke pasar-pasar utama seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, Jerman, dan Korea Selatan. Estimasi nilai ekspor pakaian olah raga nasional pada tahun 2024 mencapai lebih dari USD 480 juta atau Rp 7,8 triliun (kurs Rp 16.389), dan menunjukkan tren naik meski dalam tekanan ekonomi global.

Fenomena peran penting tren gaya hidup sehat dalam kemajuan industri olah raga ini didukung oleh riset dari Statista Market Insights (2024). Riset tersebut mencatat bahwa nilai pasar pakaian olah raga di Indonesia diproyeksikan tumbuh dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sekitar 7-8 persen per tahun hingga 2027, terutama pada segmen athleisure dan pakaian berbasis teknologi (moisture-wicking, UV protection).

Menperin menambahkan, perkembangan kinerja yang baik juga terjadi pada industri sepatu olah raga nasional. Berdasarkan data BPS, nilai ekspor produk sepatu olah raga Indonesia selama periode Januari hingga April 2025 tetap menunjukkan kinerja yang signifikan, yakni mencapai USD 1,39 miliar atau Rp 22,7 triliun.

Selain itu, industri sepatu olah raga Indonesia tumbuh dengan CAGR 13,1 persen dalam lima tahun terakhir dan berada di peringkat ke-3 dunia sebagai eksportir alas kaki terbesar dengan 450 juta pasang per tahun, serta penyerapan tenaga kerja lebih dari 500 ribu orang di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten.

"Posisi ini memperkuat kepercayaan kita bahwa industri ini memiliki fondasi kuat dan momentum untuk terus ekspansi di pasar global," katanya, dikutip dari Antara, Rabu (30/7).

Untuk industri sepatu olah raga, Statista Market Outlook memproyeksikan pasar sektor itu secara global akan mencapai nilai lebih dari USD 130 miliar dolar atau Rp 2,1 kuadriliun pada tahun 2027, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 5 persen (CAGR 2023-2027). "Ini menjadi peluang besar bagi pelaku industri nasional untuk terus memperluas akses pasar, khususnya ke kawasan dengan pertumbuhan konsumsi baru seperti Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika," katanya.

Menurut Menperin, kekuatan industri sepatu olah raga nasional tidak hanya bertumpu pada skala besar berorientasi ekspor, tetapi juga tumbuh dari akar rumput melalui industri kecil menengah (IKM) yang tersebar di berbagai daerah. Seperti sentra IKM alas kaki yang tersebar di wilayah Cibaduyut (Bandung), Magetan (Jawa Timur), Bogor, Garut, Padang, dan Palembang.

Selanjutnya, peran IKM dalam industri alat olahraga juga tidak kalah penting. Berdasarkan data BPS, sepanjang tahun 2024, industri alat olah raga nasional mencatatkan nilai ekspor sebesar USD 275,29 juta atau Rp 4,51 triliun. "Meskipun nilai ini masih relatif kecil dibandingkan subsektor manufaktur lainnya, namun menunjukkan potensi pertumbuhan yang menjanjikan di tengah tren global yang semakin mengedepankan kesehatan dan kebugaran," kata Menperin.

Berdasarkan riset dari Statista Market Insights dan Grand View Research Tahun 2024, nilai pasar global alat olah raga diproyeksikan akan tumbuh dengan CAGR sekitar 5-7 persen per tahun hingga tahun 2028, dengan nilai ekonomi mencapai lebih dari USD 185 miliar atau Rp 3,03 kuadriliun secara global.

Menperin juga menyampaikan, industri sepeda dan aksesoris semakin berkembang di pasar domestik, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap gaya hidup aktif, olah raga berkelanjutan, dan transisi menuju transportasi ramah lingkungan. Berdasarkan data BPS dan International Trade Centre (ITC) Trade Map, nilai ekspor sepeda Indonesia pada tahun 2024 diperkirakan mencapai USD 119 juta atau Rp 1,9 triliun, dengan pasar utama ekspor sepeda domestik mencakup Belanda, Jerman, Jepang, dan Malaysia.

Menurut dia, industri sepeda dalam negeri memiliki pertumbuhan permintaan yang konsisten, terutama di kategori sepeda gunung (MTB), sepeda lipat, dan city bike. Dari sisi permintaan domestik, laporan Statista Market Forecast (2024) menunjukkan bahwa pasar sepeda di Indonesia diproyeksikan mencapai nilai lebih dari USD 1,1 miliar atau Rp 18 triliun pada tahun 2027, dengan pertumbuhan tahunan CAGR sekitar 6-8 persen.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore