Seekor bekantan duduk di ranting pohon, Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Senin (6/11).
JawaPos.com - Masih segar di ingatan Aidil Amin ketika dia harus merawat seekor bekantan yang tertembak senapan pembalak liar. Satu buah peluru menembus bahu kiri primata langka berjuluk Long-Nosed Monkey tersebut. Peristiwa itu terjadi awal 1990-an saat Aidil menginjak usia remaja dewasa.
"Para pemburu itu memang sengaja menembaki bekantan karena ingin mengubah habitatnya menjadi lahan sawit," kata Aidil saat menyusuri kawasan Sungai Hitam, Kelurahan Kampung Lama, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Senin (6/11).
Kerusakan habitat bekantan memang lebih rentan terjadi pada habitat bekantan yang berada di tepi sungai. Hal ini disebabkan kawasan hutan di tepi sungai yang mudah dijangkau dan dialihfungsikan menjadi permukiman, tambak, dan pertanian.
Pada 1990-an, luas habitat bekantan tercatat mencapai 29.500 kilometer persegi (km2). Namun yang disayangkan, seluas 60 persen diantaranya atau sekitar 17.700 km2 kini telah beralih fungsi. Tersisa 11.800 km2 yang menjadi rumah yang aman bagi primata langka ini.
Di Kecamatan Samboja sendiri jumlah bekantan pada 2013 lalu mencapai 188 ekor, tersebar di sembilan spot area Sungai Hitam. Sayangnya, terjadi perubahan ekologis yang mengganggu kesehatan kawasan Sungai Hitam, baik di hulu maupun hilir.
Seperti adanya pertambangan batu bara di hulu yang menyebabkan keruhnya air sungai akibat pembuangan limbah ke sungai. Sementara di hilir, luasan area bekantan berkurang 3 Ha akibat alih fungsi lahan menjadi permukiman, tambak, dan perkebunan.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sungai Hitam Lestari Aidil Amin menjelaskan perilaku bekantan, saat menyusuri Sungai Hitam, Kec. Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Senin (6/11).
Aidil bersama lima pemuda lain, yang juga masih kerabat, telah belasan tahun melakukan upaya menjaga dan melestarikan bekantan dan habitatnya. Mereka membersihkan sampah yang masuk ke Sungai Hitam, menjaga dan merawat bekantan dari perburuan liar, serta menanam dan merawat mangrove jenis rambai di sepanjang aliran sungai. Jenis tanaman yang menjadi rumah tinggal bekantan dengan buah yang juga menjadi makanan monyet hidung panjang dengan nama Latin Nasalis larvatus itu.
Kampung nelayan pesisir di hilir Sungai Hitam, Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Senin (6/11).
Dengan kesiapan dan kemandirian dari Pokdarwis serta dukungan Pertamina EP Sanga Sanga, Ekowisata Sungai Hitam Lestari (SHL) kini menjadi salah satu destinasi wisata andalan Samboja. Ekowisata ini menawarkan susur sungai sembari melihat bekantan liar.
"Waktu terbaik untuk melihat itu jam 7 pagi sampai 10 pagi, dan kalau sore itu jam 3 sampai jam lima," terang Aidil. Jika beruntung, pada jam-jam ini, wisatawan bisa melihat kelompok bekantan 10 hingga 20 ekor.
Untuk dapat melihat bekantan liar di Ekowisata SHL, wisatawan lokal dikenakan tarif Rp 300 ribu per kapal (untuk 4 pax) atau Rp 600 ribu per kapal (muat 6 pax). Sedangkan wisatawan mancanegara (wisman) dikenakan tarif Rp 130 ribu per orang untuk satu jam susur sungai. Biaya susur sungai bisa bertambah jika wisatawan menginginkan durasi lebih panjang.
Di samping susur sungai yang menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin melihat langsung bekantan, Pokdarwis SHL juga mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) anggotanya. Antara lain, pelatihan pengolahan buah nipah menjadi klapertart serta produksi teh jeruju.
Head of Comrel & CID Zona 9, Elis Fauziyah mengapresiasi kegigihan dan konsistensi Aidil bersama kelompoknya dalam menjaga dan melestarikan bekantan dan ekosistemnya. Pertamina EP Sanga Sanga juga melihat kesiapan dan kemandirian Pokdarwis dalam menjalankan bisnis ekowisata di Samboja tersebut.
"Kami melihat sudah ada indikator kemandirian di kelompok ini. Mereka juga mempunyai network yang bagus dengan stakeholder, korporasi dan juga pemerintah. Dan, siklus pengelolaan kelompoknya juga baik, artinya mereka mendapatkan keuntungan dari bisnis ini dikembalikan jadi modal lagi untuk pengembangan," tutur Elis.
Sebagai informasi, Pertamina EP Sanga Sanga merupakan perusahaan sektor hulu migas yang tergabung dalam Subholding Upstream Pertamina Hulu Indonesia (PHI) Regional 3 Zona 9. Wilayah kerja Pertamina EP Sanga Sanga berlokasi di Kecamatan Anggana, Kecamatan Sangasanga, dan Kecamatan Samboja dengan luas total mencapai 128 km2. Per 22 Oktober 2023, produksi minyak Pertamina EP Sanga Sanga menembus 4759.141 BOPD, sedangkan produksi gasnya mencapai 6.538 MMscfd.
Pertamina EP Sanga Sanga memiliki 126 pekerja dan 281 mitra kerja. Per 17 September jumlah jam kerja di wilayah kerja Pertamina EP Sanga Sanga mencapai 38.086.610 jam dengan status zero accident. Sedangkan hingga Juli 2023, efisiensi energi yang berhasil dilakukan Pertamina EP Sanga Sanga tercatat sebesar 43.369,73 GJ.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
