Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Februari 2020 | 06.50 WIB

Kurangi Impor, Dua Pabrik BjLAS Dibangun di Surabaya dan Karawang

Ilustrasi industri baja frizal/jawapos - Image

Ilustrasi industri baja frizal/jawapos

JawaPos.com - Kebutuhan industri terhadap baja lapis aluminium-seng (BjLAS) terus meningkat. Agar tidak terus-terusan mengimpor komoditas yang merupakan bahan baku baja hilir itu, dua pabrik anyar akan beroperasi pada semester II tahun ini. Dua pabrik tersebut terletak di Surabaya dan Karawang.

Ketua Umum Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) Stephanus Koeswandi menyatakan, saat ini ada lima pabrik BjLAS di Indonesia. Sepanjang 2019, kapasitas produksinya berada pada kisaran 1,25 juta ton. Padahal, kebutuhan industri mencapai 1,4 juta ton. Untuk menutup kekurangan pasokan, pemerintah mengimpor.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa impor baja hilir tahun lalu mencapai 984 ribu ton. Kelebihan suplai itu yang lantas menjadi masalah. Sebab, baja impor tersebut menjadi pesaing utama baja lokal. Dari segi harga, baja impor jauh lebih murah.

Karena itu, ARFI menyambut baik kehadiran dua pabrik baru BjLAS. Total, akan ada tujuh pabrik. "Tentunya ini akan meningkatkan kapasitas BjLAS di tanah air. Bisa menjadi 1,8 juta ton per tahun," ungkap Stephanus Rabu (26/2). Dia juga berharap investasi dua pabrik itu bisa menekan impor yang masih tinggi.

Dalam kesempatan itu, Stephanus menyatakan bahwa sebenarnya impor masih diperlukan. Namun, praktiknya harus benar-benar diawasi agar tidak menimbulkan dampak negatif dalam jangka panjang.

"Impor ini rawan penyalahgunaan. Banyak sekali yang menggunakan HS (Harmonized System) Code tak sesuai sehingga tidak membayar bea masuk dan memiliki kualitas non-SNI," paparnya.

Misalnya, impor baja yang disalahgunakan adalah baja paduan/boron. Jumlahnya mencapai 415 ribu ton. Idealnya, peruntukan jenis baja itu adalah industri otomotif.

Namun, fasilitas bea masuk 0 persen membuat banyak industri lain juga membelinya. Salah satunya adalah para pelaku usaha di bidang konstruksi. Padahal, produk itu tidak cocok untuk konstruksi.

Sebenarnya, menurut Stephanus, Indonesia hanya membutuhkan impor baja boron sebanyak 10 ribu ton dalam satu tahun. Namun, faktanya, impor yang masuk mencapai 415 ribu ton.

"Ini tentu merugikan negara juga. Industri hilir yang seyogianya paling akhir dalam pohon baja seharusnya memprioritaskan baja dalam negeri," ungkapnya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Baja Ringan Indonesia (Asibri) Wali Buwono menyatakan bahwa investasi baja pada sektor hilir masih menarik. Buktinya, pemesanan mesin pun harus antre.

"Perusahaan kami order dari Vietnam harus inden empat bulan. Pada level lokal, waktu indennya bisa tiga sampai empat bulan," ungkapnya.

Itu bukti bahwa produk baja hilir seperti baja ringan, atap metal, dan genting metal masih laris. Demand-nya masih tinggi. "Zaman sekarang sudah minim kayu. Pembangunan rumah lebih banyak pakai baja ringan. Pemasangannya gampang. Harganya juga relatif murah," terangnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore