Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Juli 2018 | 00.28 WIB

Ibu-Ibu di Padang Pariaman Diajarkan Membudidayakan Jamur Tiram

Mahasiswa dari Universita Tamansiswa (Tamsis) Padang mengenalkan teknik budidaya Jamur Tiram kepada 25 orang ibu-ibu - Image

Mahasiswa dari Universita Tamansiswa (Tamsis) Padang mengenalkan teknik budidaya Jamur Tiram kepada 25 orang ibu-ibu

JawaPos.com - Ibu-ibu yang berada di Korong Tanjung Pisang, Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) dikenalkan dengan eknik budidaya Jamur Tiram.


Kegiatan itu merupakan bagian dari salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat dari Mahasiswa Universitas Tamansiswa (Tamsis) Padang yang tengah studi Kuliah Kerja Nyata (KKN).


Dewan Pengawas Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) Kopdaya Minang Dadok Tunggul Hitam, Kota Padang, Nurlina K mengatakan, pengenalan teknik budidaya jamur tiram yang diberikan, diharapkan mampu menjadi alternatif sumber pendapatan tambahan bagi warga setempat yang mayoritas berprofesi buruh pabrik batu bata.


"Pangsa pasar jamur tiram, masih terbuka luas. Orang yang memproduksinya masih terbatas. Ini merupakan usaha prospektif, apalagi jamur jenis ini mengandung protein tinggi," ujar Nurlina K, Minggu (29/7).


Nurlina yang juga Dosen di Universitas Tamsis mengatakan, ia bersama Kopdaya Minang yang usaha utamanya membudidayakan jarum tiram,
telah memproduksi aneka panganan dan mengantongi izin produksi dari Dinas Kesehatan (PIRT).


selain jadi sayuran jamur dapat dijadikan berbagai jenis panganan antara lain, jamur tiram crispy; rendang jamur tiram; nugget dan sate. Kesemua produk itu, dapat dibeli di Citra Swalayan dan Toko Budiman yang cabangnya tersebar di Kota Padang. Untuk jamur tiram rispy, dijual dengan harga Rp75 ribu/kg.


"Labanya lumayan, terlebih kita sendiri yang memproduksi jamurnya," ungkap Nurlina.


Nurlina membeberkan, untuk budidaya jamur dengan bibit sebanyak 3 botol menggunakan botol mineral berukuran 600 ml, memerlukan 50 kg serbuk gergaji, dedak halus seberat 6,5 kg. Pupuk Dolomit 7 ons dan jagung halus seberat 1,5 kg.


Empat bahan tersebut, lalu diaduk sampai rata dan diberikan air yang telah dicampur Pupuk EM4 yang berfungsi sebagai penyubur. Takaran pupuk cair ini sebanyak 1 tutup botol untuk 1 ember air.


Adonan tersebut, terang Nurlina, tidak boleh terlalu lembek. Setelah adonan itu bisa untuk dikepalkan, kemudian dimasukan kedalam plastik kaca ukuran sedang. Lantas, bagian sudut plastik dilipatkan kedalan, agar tak bocor saat dikukus.


Adonan ini, kemudian didiamkan dalam suhu kamar selama tiga sampai empat hari. Setelah itu, baru dikukus selama 7 jam. Tujuan dilakukan pengukusan, agar media tanam (backlok) ini dalam kondisi steril.


"Kalau dikukus dengan kompor gas, lama waktu pengukusannya sampai habis gas isi 3 kg," terangnya.


"Kalau pakai kayu dengan kobaran api terjaga, bisa dikukus selama 4 jam," tambah Nurlina.


Setelah proses pengukusan selesai, adonan media tanam terlebih dahulu didiamkan selama satu malam. Esoknya, bagian ujung media tanam yang telah diberi potongan pipa plastik dibagian ujungnya, dimasukan bibit Jamur Tiram. Bibit ini berupa butiran jagung yang telah divermentasi dengan jamur.


"Setiap media tanam, dimasukan bibit jamur (7 butir) lalu ditutup dengan koran bekas dan diikat dengan karet gelang. Memasukan bibit jamur, tangan harus bersih. Cuci tangan dengan alkohol agar steril," terang Nurlina.

Editor: Budi Warsito
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore