
Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar.
JawaPos.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat (Sumbar) menolak Islam Nusantara. Sebelumnya, keputusan serupa juga disepakati MUI kabupaten/kota se-Sumbar. Berdasarkan surat resmi tertanggal 21 Juli 2018, mereka secara tegas menyatakan bahwa Islam Nusantara tidak dibutuhkan di Ranah Minang.
Penolakan tersebut mendapat respons langsung dari MUI Pusat. Hal itu dipandang menyalahi khittah dan jati diri MUI itu sendiri. "Sudah menyalahi khittah MUI sebagai wadah musyawarah dan silaturahmi para ulama, zuama dan cendekiawan muslim dari berbagai organisasi," kata Wakil Ketua Umum MUI Pusat Zainut Tauhid melalui keterangan tertulisnya, Rabu (25/7).
Seharusnya, kata Zainut, MUI sebagai tenda besar umat Islam bisa menjadi pemersatu dan perekat ukhuwah Islamiyah dan bukan sebaliknya. MUI harus bisa mengedepankan semangat persaudaraan (ukhuwah), toleransi (tasamuh) dan moderasi (tawazun) dalam menyikapi berbagai persoalan. Khususnya yang berkaitan dengan masalah umat Islam.
Pernyataan MUI Pusat langsung dibalas Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar yang dituangkan dalam akun facebook pribabi Buya Gusrizal Gazahar. Tulisan diunggah di beranda faceebok pada Kamis (26/7) sekitar pukul 03.00 WIB dengan judul Amanah Kami Tunaikan.
Dalam tulisan itu, Buya Gusrizal mengatakan bahwa membiarkan umat bingung dengan pernyataan orang-orang yang mengusung Islam Nusantara sesuai seleranya. Seperti menuding Islam Arab sebagai Islam Radikal, Islam penjajah dan lainnya, berarti mengabaikan tugas keulamaan dalam menjaga kesatuan umat.
Suatu istilah yang dilahirkan sebagian umat, kemudian disebarkan dengan kekuasaan dari meletakkan tugu sampai mengarahkan berbagai institusi. "Itu jauh sekali dari taswiyyatul manhaj. Bahkan mengabaikan bagian umat Islam lain yang belum tentu bisa menerima konsep yang diusung tersebut," tulis Buya.
Ketika penganut sekuler, liberal dan pluralis menjadikan Islam Nusantara sebagai payung tumpangan mereka, itu bukan lagi perkara furu yang bisa didiamkan begitu saja. "Ketika sikap diambil oleh ulama Sumbar, kami bukan hanya membaca dan mendengar paparan konsep, sehingga dengan enteng dikatakan salah persepsi," tegasnya.
"Kami melihat perkataan, perbuatan dan sikap yang dilakukan di bawah konsep itu jauh melenceng. Maka kami memadukan antara pemahaman konsep dengan aplikasi di lapangan, itulah langkah berpendapat dalam kasus aktual. Kalau tidak demikian, berarti kita membohongi diri sendiri," ulas Buya dalam tulisan.
MUI Sumbar sudah melahirkan sikap dan siap mengajak semua kembali kepada nama agama yang diberikan oleh Zat Yang Maha Menurunkan Syari’at Agama ini. Yaitu, Islam (QS. Ali ‘Imran 19, 85, al-Maidah 3 dan al-Shaff 7) tanpa ada embel-embel apapun.
"Mudah-mudahan tidak dilupakan bahwa telah dua kali saya juga mengkritik istilah Islam Wasathiy di hadapan pengurus lembagai keulamaan ini di Lombok dan di Bogor," jelasnya.
Satu mumayyizat (keistimewaan) tidak bisa dilabelkan kepada Islam. Karena akan memunculkan pemahaman yang rancu di tengah umat. Seluruh mumayyizaat harus dipahami secara utuh dan tidak bisa berdiri sendiri.
"Kalau hanya kekhususan budaya dan tradisi yang menjadi alasan menambah Islam dengan wilayah dan sifat lainnya. Bagi kami itu bukanlah dalil. Karena semua tradisi dan budaya tetap kami saring dengan konsep uruf dalam dalil hukum," urai Buya Gusrizal.
"Kami tegak menjaga Ranah Minang tempat kami menghirup udaranya, meneguk airnya. Sehingga kami merasakan detak nadi kehidupannya. Karena kami yang hidup di tengah masyarakatnya, maka kami bertanggungjawab mengatakan bahwa negeri kami tidak membutuhkan istilah Islam Nusantara. Dan juga tambahan apapun di belakang nama Islam. Karena kata itu sangat sempurna dalam pandangan kami," bebernya.
Dalam menjalankan dakwah dan mengamalkan tradisi, MUI Sumbar sudah memiliki konsep yang menyatukan ormas Islam apapun di Ranah Minang selama ini. Hal itu tertuang dalam Adat Basandi Syara, Syara Basandi Kitabullah, Syara Mangato Adat Mamakai.
"Kami tempatkan falsafah kehidupan itu dalam pengamalan agama kami yang semenjak ulama-ulama tua kami. Namanya adalah Islam. Tanpa ada tambahan apapun. Karena kami tidak mampu menggandengkan apapun dengan nama yang sempurna itu," tulis lulusan Al-Azhar itu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
