
LUAR ANGKASA: Venzha Christ (tengah), 43, seorang seniman di Jogjakarta yang ikut simulasi hidup di Planet Mars.
JawaPos.com - Mengikuti simulasi hidup di Mars selama satu bulan, bagi Venzha Christ bukannya tanpa persiapan. Sebelum berangkat, ia pun melakukan berbagai persiapan yang dijadikan sebagai bekalnya.
Pria berumur 43 tahun itu mengaku setelah terpilih menjadi bagian program tersebut, kemudian terus melakukan komunikasi dengan banyak institusi penting di bidang Space Science (ilmu tentang luar angkasa) di dunia. Melanjutkan banyak penelitian di bidang Space Science dan terus belajar secara disiplin.
"Yang jelas olahraga teratur, berhenti merokok, tidak melakukan kegiatan yang merugikan tubuh. Serta tentunya mengkonsumsi makanan sehat," katanya kepada JawaPos.com, melalui surat elektronik baru-baru ini.
Hal yang terpenting berikutnya adalah menyiapkan misi dan konsep kerja yang akan dilakukannya selama menjalankan simulasi. Kesemuanya itu tidak ada yang boleh bersifat abstrak, harus ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan.
Total selama sebulan ia pun berada di sebuah gurun yang jauh dari peradaban, di negara bagian Utah, Amerika Serikat. Dari sebuah lahan padang gurun yang sangat gersang dan sangat mirip dengan kondisi bagian tertentu dari Mars.
Itulah yang menjadi pusat pelatihan kehidupan Mars, yang disebut Mars Desert Research Station (MDRS). Banyak hal yang dilakukan di sana, mulai dari pelatihan mental, fisik, ataupun kecakapan berkomunikasi, disiplin, memecahkan masalah, dan lainnya. "Hal tersulit menurut saya adalah adanya semua protokol yang harus diikuti dan dilaksanakan, mirip seperti di film-film,” katanya sembari mengingat pengalamannya.
Bagi Venzha, semua hal yang harus dilalui saat simulasi itu sangat menarik. Karena nyaris semua yang terjadi disana adalah hal baru dan merupakan konsep awal dimana entitas bernama manusia ini harus bisa survive jika ditempatkan pada lingkungan dan situasi alam yang berbeda.
"Tugas saya adalah mendeteksi radiasi matahari untuk kemudian dihasilkan dalam bentuk suara dan visualisasi frekuensi. Kemudian menganalisanya, dengan alat yang saya bawa dari Indonesia yang kami buat bersama dengan team inti dari v.u.f.o.c lab (Venzha Christ, Yudianto Asmoro, Bayu Bawono, Hariyono, Dwi Agus Pengkit)," katanya.
Dalam program simulasi ini, ia pun bersama beberapa ilmuwan yang disebutnya 'Team Asia': Crew 191. Terdiri dari, Yusuke Murakami, Makoto Kawamura, Kai Takeda, Fumiei Morisawa, Miho Tsukishiro, Venzha Christ, dan Wataru Okamoto.
"Kami bersama-sama melakukan riset dan penelitian di MDRS selama proses pelatihan Mars tersebut. Hidup bersama kami juga 2 robot anjing yang disponsori oleh perusahaan terkemuka," katanya.
Pihak perusahaan tersebut mengirimkan 2 robot anjing yang masing-masing mempunyai kemampuan untuk menerima dan mengerti bahasa komunikasi dengan Team Asia, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Jepang. (bersambung)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
