
Bupati Pati Sudewo menolak mundur saat menemui massa demo 13 Agustus di halaman pendapa setempat, Rabu (13/8). (Radar Pati)
JawaPos.com - Rabu (13/8) menjadi panggung kemarahan rakyat di Kabupaten Pati Jawa Tengah. Ribuan massa mengepung kantor bupati, meneriakkan satu tuntutan: “Sudewo mundur!”
Gas air mata juga mewarnai udara. Hal tersebut jadi salah satu pemicu amarah masyarakat pati. Alih-alih ditemui oleh Sudewo, malah dapat represi dari aparat. Kericuhan pecah, situasi berubah menjadi simbol perlawanan warga terhadap pemimpinnya.
Gelombang protes tak hanya berhenti di jalanan. DPRD Pati resmi membentuk panitia khusus pemakzulan, sebuah langkah politik yang jarang diambil, sekaligus sinyal bahwa konflik ini sudah naik level.
Di tengah tekanan yang kian menyesakkan, Sudewo bergeming. Dengan nada tegas ia berkata, “Saya dipilih secara konstitusional. Tidak bisa berhenti hanya karena tuntutan massa. Ada mekanismenya.”
Pernyataan itu menyiratkan satu pesan: melengserkan bupati bukan perkara satu malam. Ada jalur hukum yang panjang, berlapis, dan penuh ruang manuver politik. Berikut urutannyaL
Panitia pemakzulan akan menggunakan hak angket untuk mencari bukti pelanggaran Bupati Sudewo.
Jika bukti ditemukan, usulan pemakzulan harus diuji di sidang paripurna DPRD dengan syarat dukungan minimal 2/3 anggota yang hadir dari total 3/4 kehadiran anggota DPRD.
Artinya, satu atau dua kursi yang “berpindah” bisa mengubah hasil. Di sinilah lobi politik, kesepakatan di balik layar, bahkan ancaman, bisa memainkan peran.
Jika DPRD lolos, berkas akan dikirim ke Mahkamah Agung. MA hanya akan menilai berdasarkan pelanggaran hukum dan sumpah jabatan. Tekanan massa? Tidak relevan.
Di tahap ini, permainan bukan lagi teriakan di jalan, tapi kekuatan bukti dan argumentasi hukum. Banyak proses pemakzulan kepala daerah lain yang kandas di sini.
Jika MA menguatkan putusan DPRD, bola terakhir ada di Presiden. Melalui Menteri Dalam Negeri, Presiden punya wewenang memecat bupati.
Namun, keputusan ini sering kali mempertimbangkan stabilitas politik nasional, bukan sekadar dinamika lokal.
Sejarah mencatat, banyak bupati yang selamat dari pemakzulan karena dua hal: lobi politik yang kuat dan celah hukum yang dimanfaatkan. Bahkan jika DPRD solid, cukup ada satu pasal yang tak terbukti di MA, semua gugur.
Kesimpulannya, meski Sudewo kini terpojok di mata publik, ia masih punya “senjata” berupa prosedur hukum yang panjang.
Gelombang protes dan langkah DPRD memang besar, tapi tanpa peluru bukti yang mematikan, pemakzulan ini bisa berakhir menjadi sekadar drama politik musiman.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
