
Nurtita, pencari batu kali tradisional di Dharmasraya, Sumbar
JawaPos.com DHARMASRAYA - Demi menyambung hidup untuk keluarga, wanita-wanita di Kenagarian Sungaikambuik Pulaupunjung, Kabupaten Dharmasraya, Sumbar rela melakoni pekerjaan apapun. Termasuk melakoni sebagai pencari batu kali tradisional di Sungai Batanghari, tepatnya di Jorong Muaromong.
Tentunya mencari sesuap nasi di balik memburu batu di dalam sungai bukanlah pekerjaan mudah. Mereka harus bertaruh nyawa, karena harus menyelam sedalam dua meter. Bila tidak bisa mengendalikan badan sesaat berada di dalam air arus deras, bukan tak mungkin nyawa akan melayang.
Dilansir Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Nurtita, salah seorang pencari batu tradisional di kawasan Jorong Muaromong ini tengah mengambil batu ke dalam sungai untuk memenuhi pesanan yang diterima.
Dia bercerita, profesi pencari batu kali ini dilakoni sudah puluhan tahun. Hasilnya dijadikan sebagai tambahan penghasilan membantu suami memikul beban kehidupan. Maklum, sang suami juga bekerja mencari batu.
Diakuinya, segala hal yang ada di dalam aliran sungai terbesar dan terpanjang di Sumatera itu dapat dimanfaatkan dan menjadi ladang rezeki.
Jangankan bermacam ikan sungai, material berharga seperti mas dan batu kali juga begitu melimpah ruah. Sekali turun ke sungai, dalam waktu satu sampai dua jam saja satu perahu batu sudah dapat terkumpul.
Kini keindahan itu tidak ada lagi. Untuk mencari batu sungguh begitu sulit. Agar mendapatkan sekubik saja cukup menyita waktu.
Itu pun kalau cuaca lagi mendukung. Jika tidak, maka terpaksa harus sabar menunggu. “Kini perai ka tangah lu. Lah hujan lo. Aia gadang. Baa ka mancilam. (Kini tidak dulu mencari batu ke tengah sungai. Hujan air bakal deras. Bakal sulit untuk menyelam,” ungkap ibu enam anak ini.
Mencari batu ke tengah sungai, kata Nurtita, dia harus menyelam. Ada sekitar satu hingga dua meter kedalamannya. Satu per satu batu kemudian dikumpulkan ke atas perahunya.
Dulu saat sungai masih bersahabat sekitar 15 kubik batu dapat dikumpulkan dalam dua hari pencarian saja. Rupiah yang dihasilkan cukup untuk memenuhi kebutuhan kehidupan makan sekeluarga.
Dalam menjual batu juga ada musimnya. Pada waktu itu, ada masyarakat yang tengah membangun rumahnya. Langganan lain adalah para pengusaha toko bangunan.
Kalau tidak ada pesanan, dan air sungai cukup tenang, maka Nurtita dan sang suami hanya mengumpulkan saja. Batu ditarok di pinggir sungai, dipisah sesuai ukuran. Batu yang pecah juga dikumpul terpisah. Satu kubik batu biasanya dihargai sekitar Rp 100 ribu.
Musim hujan kini memang sangat akrab di Kabupaten Dharmasraya. Pagi cerah, siang seketika bisa berubah hujan badai. Memang air Sungai Batang Hari tampak deras dan keruh.
Di beberapa titik sungai juga tampak terjadi erosi. Para mendulang mas di sekitar jembatan Sungaidareh juga memilih istirahat. Kalaupun ada tampak beberapa pendulag menjalankan aktivitasnya di pinggir sungai. (***/iil/JPG)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
