
POTONG GIGI: Ida Pedanda Gede Anom Jala Karana Manuaba mengikir salah seorang umat Hindu yang sedang menjalani ritual Mepandes.
JawaPos.com - Umat Hindu Banjar Besar Surabaya menggelar ritual Mepandes massal di Pura Agung Jagat Karana, Jalan Ikan Lumba-Lumba No.1, Perak Barat, Krembangan, Minggu (8/7). Umat Hindu wajib melaksanakan ritual itu terhadap putra-putrinya yang sudah akil baliq sebelum wafat.
Sebanyak 111 umat Hindu yang mayoritas berusia 15 tahun menunaikan kewajiban itu dengan berkumpul di halaman pura dengan baju adat serba kuning. Mereka duduk berhadapan dengan pandita Ida Pedanda Gede Anom Jala Karana Manuaba.
Satu per satu, peserta naik ke panggung dan mengangkat tangan setinggi rusuk. Nampak juga beberapa pemuka agama Hindu lain yang memberkati dengan rerajahan (aksara suci) sebelum gigi mereka dikikir oleh para mangku sangging.
Ketua Panitia Upacara Mepandes I Made Wisana mengatakan, tak hanya sebagai kewajiban dalam beragama. Umat Hindu di Surabaya merasa bahwa ritual itu perlu untuk mempererat silaturahim sesama umat.
"Memang susah cari waktu yang tepat. Akhirnya dipilih hari ini karena bertepatan dengan libur sekolah," kata Wisana kepada wartawan di Pura Agung Jagat Karana, Minggu (8/7).
Wisana menjelaskan, ritual kali ini juga mengikuti perkembangan zaman. Pihaknya juga menyertakan sejumlah dokter gigi selama ritual kikir gigi. Sehingga, ibadah tersebut tidak akan mempengaruhi kesehatan umat.
"Para sangging bisa tahu bagaimana mengasah gigi umat yang pakai behel atau seberapa banyak yang harus dikikir. Supaya bersih secara jiwa dan bersih secara raga," jelas Wisana.
Sementara itu, Ida Pedanda Gede Anom Jala Karana Manuaba mengatakan, melalui upacara itu para umat hindu dapat menjauhkan diri dari enam sifat buruk manusia. Istilahnya, Sad Ripu.
Pertama, manusia harus menjauhkan diri dari Kama yang artinya nafsu. Kedua, adalah Lobha yang artinya serakah. Lalu, Krodha yang artinya kejam atau marah.
Yang keempat, adalah Mada yang artinya mabuk atau gila. Kemudian, Moha yang artinya angkuh dan Matsarya berarti dengki.
"Menghapus enam keburukan itu disimboliskan dengan memotong empat gigi seri dan dua gigi taring. Sama seperti kisah Bhatara Kala yang harus memotong taringnya saat ingin bertemu orang tua," kata Pedanda Gede Anom.
Meski begitu, tak semua peserta yang datang merupakan remaja. Misalnya, Nyoman Surya yang sudah memasuki usia 45. Pria yang bekerja di Disoplatal, Mabesal, Jakarta, baru dapat melakukan kewajiban itu saat memasuki usia paruh baya.
Alasannya, karena ketinggalan saat keluarganya melakukan potong gigi secara bersama 2014 silam. "Waktu itu saya sudah tidak bisa cuti. Daripada nanti saya dipotong saat sudah meninggal, lebih baik saya lakukan sekarang. Lagipula, ini kan kewajiban umat hindu sebelum mati nanti," kata Surya.
Sebagai informasi, ritual tersebut wajib dilakukan para orang tua kepada putra-putrinya. Ritual itu pun harus dilakukan dengan jumlah genap. Maksudnya, jika ada orang tua yang punya jumlah anak ganjil, harus disisakan satu yang wajib melaksanakan ritual itu saat menikah nanti.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
