Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 November 2016 | 23.33 WIB

Ada Buaya Nongkrong di Tepi Sungai, Katanya Kembaran Manusia

Sejumlah masyarakat mendatangi lokasi munculnya buaya di kawasan Desa Palembang, Mempawah Timur, Senin (21/11). - Image

Sejumlah masyarakat mendatangi lokasi munculnya buaya di kawasan Desa Palembang, Mempawah Timur, Senin (21/11).

JawaPos.com - Warga Desa Palembang, Mempawah Timur, dihebohkan naiknya buaya di daratan. Hingga Senin (21/11) sore, masyarakat yang penasaran masih mendatangi kawasan itu.



“Seminggu terakhir ini buaya itu naik ke darat, sebelumnya ia naik dalam parit yang dekat dengan pemukiman warga, namun tidak mengganggu,” tutur Gebes, seorang warga setempat sebagaimana dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Selasa (22/11).



Sayangnya, meski buaya sepanjang sekitar dua meter lebih itu tidak mengganggu, ada saja yang mengusilinya. “Memukul dan melempar batu ke arah buaya tersebut, namun sudah dimarahi. Akhirnya orang yang datang hanya melihat dan sekedar berfoto saja,” ucap Gebes. 



Dari penampakannya, diduga predator sungai tersebut berjenis Buaya Muara. Rakyat Kalbar kemudian mendatangi salah seorang tokoh warga setempat, Idris M. Nuh.



Pria berusia 69 tahun ini mengungkapkan, bagi sebagian penduduk, ada yang percaya buaya yang naik ke darat tersebut punya kembaran seorang manusia yang telah meninggal dunia. 



“Ada juga yang tidak percaya terhadap cerita tersebut, percaya dengan apa yang dilihat saja,” tuturnya.



Ia telah memperingatkan orang-orang yang datang untuk tidak melukai buaya ini. Sebab, Idris meyakini itu bukanlah buaya sembarangan. “Kalau hanya untuk melihat, silakan saja,” ucapnya.



Menurut dia, persis di sungai sekitar Makam Daeng Manambon di Desa Sebukit, Kecamatan Mempawah Hilir, juga terdapat tiga ekor buaya yang merupakan kembaran manusia. Cuma menampakkan diri pada hari-hari tertentu.



“Seperti buaya yang naik ini karena menjelang (ritual) robo-robo,” jelas Idris.



Bersama tetua-tetua lainnya, ia telah mendatangi buaya tersebut untuk menebar beras kuning serta membacakan doa agar tidak mengganggu masyarakat. Memang, kata Idris, tempat buaya kerajaan itu menampakkan diri kerap dilakukan ritual tolak bala atau buang-buang. 



Ditambahkannya, buaya tersebut naik ke darat karena lapar. “Tahun lalu, persis di tanjung tempat kita lakukan tolak bala, buaya kuning itu pasti timbul. Baru kali ini ia naik ke darat,” pungkas Idris. (*/RK/fab/JPG)

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore