Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Maret 2024 | 01.07 WIB

Stop Kekerasan Santri, RMI-PWNU Jatim Lakukan Pendampingan Kasus Kediri dan Doa Bersama

Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia/Rabithah Ma - Image

Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia/Rabithah Ma

JawaPos.com–Kekerasan di lingkungan pondok pesantren menjadi keprihatinan di kalangan Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia atau Rabithah Ma'ahidil Islamiyah (RMI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Ketua RMI PWNU Jawa Timur, KH M. Iffatul Lathoif menyatakan keprihatinan atas kasus kekerasan yang menimpa santri di salah satu pesantren di Kediri. Pihaknya mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada pihak keluarga korban.

RMI PWNU Jatim mengawal pendampingan korban, tersangka dan pesantren sampai suasana kembali kondusif. Dengan mengoptimalkan fungsi Satgas Pesantren Ramah Santri,” tutur Gus Thoif, panggilan akrab KH M. Iffatul Lathoif.

Gus Thoif mengimbau kepada seluruh warga santri, khususnya pondok pesantren di bawah naungan RMI untuk melakukan doa bersama bagi santri yang meninggal dunia diduga akibat penganiayaan di pesantren pada 23 Februari.

Menurut dia, pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan tertua dan khas di Nusantara dalam mengembangkan dakwah Islam ala ahlussunnah waljamaah. Sebagian besar menjadi bagian dari organisasi Islam moderat di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).

Pendiri NU Hadratusy Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari, lanjut dia, adalah pendiri pesantren tua pada akhir abad ke-19. Demikian pula guru para ulama dan kiai pesantren di Nusantara, yakni Syaikhona Muhammad Kholil Al-Bangkalan, mempunyai sejarah panjang dalam penerapan pola pendidikan Islam di pesantren.

”Dari pesantren lahir para tokoh bangsa dan menjadi pendiri negara. Seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH As'ad Syamsul Arifin, KH Masjkur, dll. Mereka kemudian mendapat anugera Pahlawan Nasional,” papar KH M. Iffatul Lathoif.

Dalam kasus kekerasan di Kediri, menurut KH M. Iffatul Lathoif, menjadi pelajaran penting bagi pengelola pondok pesantren untuk melakukan pengawasan yang ketat di antara para santri.

”Ya, terus terang, kami sangat prihatin dengan kejadian ini. Kami akan terus melakukan koordinasi yang mengaktifkan secara optimal Satgas Pesantren Ramah Santri,” tutur Gus Thoif, dari keluarga besar Pondok Pesantren Al-Falah Mojo Kediri.

Sebelumnya, seorang santri berusia 14 tahun meninggal diduga akibat penganiayaan di Pondok Pesantren Tartilul Quran (PPTQ) Al Hanifiyyah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Korban merupakan adik kelas para pelaku. Korban berasal dari Afdeling Kampunganyar, Dusun Kendenglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.

Terkait hal itu, pihak pondok pesantren bersama Ketua PCNU Banyuwangi KH Ali Makki Zaini didampingi Rais Syuriyah MWCNU Glenmore KH Moh. Noer Khotib Thalib menyatakan belasungkawa. Para tokoh itu telah melakukan silaturahmi dan menyatakan prihatin atas kasus yang menimpa almarhum, kepada keluarga korban.

PCNU Banyuwangi pun melakukan koordinasi dengan lembaga dan badan otonom NU setempat untuk melakukan kepedulian sosial bagi keluarga korban.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore