Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Oktober 2022 | 06.30 WIB

Blarrr! Misteri Pak Haji Hasim, Ledakan Bom Ikan di Pasuruan Lagi

Photo - Image

Photo

JawaPos.com- Blarrr! Suara ledakan itu terdengar bergemuruh. Begitu keras. Mengagetkan suasana petang di Kampung Bajangan, Kecamatan Gondangwetan, Kota Pasuruan. Ledakan itu disertai bunyi suara genting. Berserakan. Warga pun berhamburan. Keluar dari rumah, menuju sumber suara.

Ternyata, suara bom itu berasal dari rumah Hasim. Warga setempat biasa  memanggilnya dengan Pak Haji Hasim. Ledakan di rumah pria berusia 65 tahun itu bukan sedang ada aksi terorisme. Itu bahan bom ikan alias bondet. Yang entah kenapa mendadak meledak. Masih dalam penyelidikan polisi.

Akibat ledakan bom itu, sejumlah orang menjadi korban. Terluka. Termasuk Tutik, 50, istri Hasim. Sampai Selasa (18/10), polisi masih mencari Hasim. Dia dikabarkan menghilang setelah sempat mengantarkan Tutik ke RSUD Soedarsono, Pasuruan.

Bukan hanya Tutik. Ledakan bondet juga membuat Aminah juga terluka. Ibu 50 tahun itu tetangga Hasim. Rumahnya di sebelah timur rumah Hasim. Aminah mengalami memar pada bagian tubuhnya. Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo, dia pun bercerita kejadian memilikan itu.

Saat itu, Senin (17/10), Aminah baru selesai menjalankan salat Magrib. ’ ’Biasanya saya salat Magrib nggak turun, menunggu Isya. Tapi, perasaan nggak enak. Kemudian turun, keluar rumah,” jelasnya.

Di depan rumah, saat itu ada anaknya. Lalu, Aminah dipanggil. Disuruh duduk di sebelah. Tapi, Aminah tidak mau dengan alasan nanti kakinya terkena najis. Beberapa saat kemudian, suara mengerikan itu terjadi. Ledakan keras dari rumah tetangganya itu mengagetkan. Seketika, dia juga melihat asap mengepul. Tak lama kemudian, terjadi hujan kereweng atau pecahan genting.

“Saat itulah tangan saya kejatuhan. Mungkin pecahan yang agak besar. Kalau yang kecil-kecil ke kepala, tidak apa-apa. Tapi yang ini langsung kayak begini. Dan saya sempat dibawa ke rumah sakit,” tutur Aminah sambil menyangga tangannya dengan kain.

Aminah masih beruntung. Tetapi tidak dengan Tutik. Istri Hasim belakangan harus dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya. Sebab, kondisinya belum membaik. Menderita luka bakar hingga 80 persen. “Korban dilarikan ke rumah sakit dr Soetomo Surabaya. Saat ini, masih dalam perawatan,” kata AKP Bima Sakti, Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota.

Insiden itu masih diselidiki kepolisian. Bahkan Polres Pasuruan Kota meminta bantuan tim penjinak bom (Jibom) Gegana dan Labfor Polda Jatim. Gegana langsung mendatangi Dusun Bajangan Kulon itu beberapa jam setelah ledakan. Begitu tiba di lokasi, mereka melakukan penyisiran. “Masih ada satu rol, ini industri,” kata petugas kepada petugas lainnya.

Tidak lama petugas menyisir TKP. Kurang lebih satu setengah jam. Pukul 23.00 WIB petugas terlihat sudah menghentikan kegiatan. Pada Selasa (18/10), selain Gegana, juga ada tim Labfor di rumah Hasim. Mereka mengumpulkan beberapa barang bukti.

Rumah Hasim masih steril. Terpasang police line. Melingkari rumah yang tampak berantakan itu. Polisi juga memasang police line di rumah lain di sisi utara rumah yang meledak. Diduga rumah itu juga milik Hasim. Di dalam rumah bercat putih itu, ditemukan barang sejenis pupuk sebanyak 30 sak.

Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota AKP Bima Sakti mengatakan, polisi melakukan sterilisasi serta olah TKP. Dari hasil penyisiran itu, ada beberapa barang yang diamankan petugas.

Barang itu disinyalir merupakan barang peledak. “Kami amankan sesuai SOP. Dengan mengerahkan tim dari Gegana dan Labfor Polda Jatim untuk menentukan barang itu apakah handak (bahan peledak) atau yang lain,” ungkapnya.

Saat kejadian, lanjut Bima, ada satu orang di rumah. Yakni, Tutik, istri Hasim. Adapun di belakang rumah yang berdempetan, ada dua cucu dari Hasim yang berusia 5 tahun dan 2 tahun.

Hasim sendiri tengah melaksanakan salat Magrib di musala dekat TKP. ’’Untuk pemicunya atau ada kegiatan apa hingga meledak, masih kami dalami. Kami belum bisa memastikan,” ujar Bima.

Dari informasi sumber yang dipercaya, polisi telah mengamankan 7 kardus bahan peledak yang siap dijual. Selain itu, ditemukan ratusan selongsong terbuat dari pipa aluminium serta beberapa serbuk yang diduga sebagai bahan membuat bom ikan.

’’Apa saja yang diamankan nanti yang berkompeten yang menjelaskan. Yang pasti barang tersebut diduga adalah bahan dasar pembuat bondet atau bom ikan,” terang Bima.

Selasa (18/10), tim Jibom Polda Jatim langsung memusnahkan barang bukti yang diduga bahan peledak itu. Pemusnahan dilakukan dengan cara diledakkan. Peledakan bertempat di lokasi bekas tambang, Desa Cengkrong, Kecamatan Pasrepan, Pasuruan.

Peledakan dilakukan dua kali. Ini untuk meminimalkan dampak getaran. Pertama berskala rendah. Ledakan kedua cukup besar. Suara ledakan pemusnahan bahan peledak itu sampai terdengar hingga radius 5 kilometer lebih.

Lantas kemana Hasim? Bima mengungkapkan sesaat setelah kejadian Hasim memang sempat pulang. Bahkan, juga sempat menolong Tutik dengan membawanya ke RSUD Soedarsono, Kota Pasuruan. “Tapi kemudian pulang dan sampai sekarang (kemarin, Red) belum ketemu,” jelasnya.

Petugas masih mencari Hasim. Sebab, dia merupakan satu-satunya saksi kunci dalam kejadian tersebut. Keterangan dari yang bersangkutan akan membuat kasus ini menjadi benderang. “Masih kami cari. Sejauh ini belum kami temukan,” terangnya, Selasa (18/10).

Polisi sudah memeriksan sedikitnya sebelas 11 saksi. Di antaranya, warga sekitar dan juga anggota keluarga. “Sementara masih belum ada tersangka. Kami masih terus melakukan penyelidikan,” tandasnya.

Jawa Pos Radar Bromo mendapatkan informasi, setelah Hasim pulang dari RSUD Soedarsono, dia meminta antar salah seorang tetangganya ke Pasrepan. Rumah saudaranya. Selang beberapa menit kemudian, Hasim meminta diantar saudaranya itu kembali ke rumah sakit. Setelah itu, Hasim menghilang.

Hasim dikenal sebagai seorang petani. Adapun Tutik adalah tukang jahit. Hasim tinggal di Desa Bajangan sudah puluhan tahun. Namun, dia juga memiliki keluarga yang tinggal di pesisir Kota Pasuruan.

Dari keterangan sumber, Hasim diduga kuat masih ada keterkaitan dengan kasus ledakan maut bom ikan di Bugul Kidul, Pasuruan, pada 2014 silam. Dalam kejadian itu, dua orang tewas.

Nah, Hasim disebut-sebut masih keluarga dengan pemilik rumah di Bugul Kidul yang meledak itu. Bahkan, kabarnya, Hasim juga sempat diamankan petugas. Namun, karena dianggap tidak ada bukti, Hasim pun bebas.

Bahaya dan Ancaman Bom Ikan

Insiden bom ikan meledak dan membawa korban jiwa sudah kerap terjadi. Di Pasuruan pun terdata sudah beberapa kali. Pada September 2021 lalu, ledakan  bondet terjadi di Desa Pekangkungan, Gondangwetan. Dalam kejadian itu dua nyawa terenggut. Belasan rumah warga rusak. Porak poranda.

Tidak hanya di Pasuruan, banyak kejadian serupa di daerah lain. Entah sudah berapa banyak orang tewas sia-sia karena bom ikan tersebut. Yang jelas, mesti ada tindakan tegas, lebih masif dan sistematik untuk menghentikan aktifitas yang membahayakan tersebut.

Mengutip website Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bom ikan sudah dilarang keras. Selain membahayakan jiwa, aktivitas pengeboman ikan itu juga berdampak negatif terhadap ekosistem laut. Bom ikan juga sangat merugikan masyarakat, terutama masyarakat pesisir yang menggantungkan pemasukan dari dari sektor kelautan.

Beberapa dampak bom ikan, pertama, rusaknya terumbu karang sebagai rumah ikan. Bom ikan dengan berat 250 gram akan menghancurkan sekurang-kurangnya 5-10 meter persegi terumbu karang. Kedua, ikan akan mati sia-sia. Ikan akan tercabik-cabik dan membusuk serta terapung di laut. Ketiga, berkurangnya jumlah ikan. Dampak terumbu karang yang hancur menyebabkan ikan tidak akan kembali ke daerah itu.

Keempat, hilangnya pendapatan daerah. Kerusakan area laut menyebabkan hilangnya keindahan yang menjadi tujuan wisatawan. Kelima, membahayakan pelaku pengeboman. Banyak pelaku yang mengalami luka dan cacat bahkan akibat kematian karena pengeboman.

KKP juga telah beberapa kali menangkap empat orang pelaku bom ikan. Di antaranya pada Februari 2021 lalu. Empat orang pelaku berhasil ditangkap aparat saat tengah melakukan penangkapan ikan yang dilarang menggunakan potasium dan bom ikan di sekitar perairan Pulau Dua Laut.

Sayangnya, dari beberapa data yang dikumpulkan JawaPos.com, selama ini rata-rata pelaku bom ikan dihukum relatif ringan. Padahal, dampak yang ditimbulkan sangatlah besar.

Selain menindak tegas pelaku pengeboman ikan sesuai peraturan perundangan yang berlaku, KKP melalui Ditjen PSDKP juga aktif melakukan edukasi. Baik kepada masyarakat maupun para nelayan serta pengusaha perikanan agar penangkapan ikan dapat dilakukan dengan cara yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Namun, upaya untuk dapat menghentikan destructive fishing tersebut tentu membutuh sinersigisitas dan kolaborasi segenap stakeholder. Tidak cukup hanya kerja keras KKP, melainkan juga peran aktif dari pemerintah daerah dan masyarakat. Terutama dari menumbuhkan kesadaran para nelayan. Terus berikhtiar tiada henti menjaga kelestarian bahari. Demi tercapai masa depan lebih berseri.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore