Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 September 2022 | 19.46 WIB

Usai Lagu Ngombe Dawet, Makam Joko Tingkir Semakin Banyak Dikunjungi

Photo - Image

Photo

JawaPos.com- Bengawan Solo selalu memanggil untuk berpulang dan berbagi cerita. Bagi setiap dari mereka yang pernah tinggal atau memiliki kenangan. Ceritanya, tiada pernah berakhir. Mengalir jauh. Benar kata almarhum Gesang: Bengawan Solo, riwayatmu ini, sedari dulu jadi, perhatian insani.

Nah, di tepian Bengawan Solo itulah Joko Tingkir dimakamkam. Tepatnya, di Dusun Duko, Desa Pringgoboyo, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kini, dalam beberapa waktu terakhir, makamnya makin banyak didatangi pengunjung. Berziarah dan berwisata religi.

Padahal, jarak dari Kota Lamongan lumayan jauh. Sekitar 35 kilometer. Waktu tempuh dengan mengendarai mobil sekitar 1 jam 22 menit. Dari Kota Lamongan ke barat atau arah Babat. Sesampai di pertigaan Pucuk, belok kanan ke utara. Lalu, sebelum jembatan yang membentang di atas Bengawan Solo, belok ke kanan.

Hanya beberapa meter, tulisan besar di tepi jalan sudah menyambut: Makam Joko Tingkir, Desa Pringgoboyo. Pas di akses masuk sudah lumayan lebar. Pun  sudah dibeton. Namun, cor-coran itu tidaklah panjang. Setelah itu, masuk ke permukiman. Akses menyempit. Tapi, jalanan mulus beraspal. Saat mengemudi, cermati setiap belokan. Perhatikan, petunjuk ke arah makam Joko Tingkir.

Belakangan, nama Jaka Tingkir akrab di telinga. Makin melangit, meski jauh sebelumnya nama itu tersemat sebagai julukan klub sepak bola Lamongan. Nama itu happening. Dari pojok-pojok kampung hingga ke dinding istana. Ini setelah beredar lagu Jaka Tingkir Ngombe Dawet.

Lagu yang berbalut kegembiraan. Terasa renyah. Di telinga siapa saja. Mulai balita hingga renta. Joko Tingkir ngombe dawet, ojo dipikir marai mumet. Terjemahannya, Joko Tingkir minum dawet, jangan dipikir hingga membuat mumet alias pusing.

Makin menjadi buah bibir setelah beberapa kiai protes lagu itu. Sebut saja ada KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) dan KH Anwar Zahid. Mereka tidak terima. Joko Tingkir itu bukan tokoh sembarangan. Beliau termasuk ulama besar di masanya. Dari garis keturanannya terlahir ulama besar pula. Antara lain pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadrastussyaikh KH Hasyim Asyari dan Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Dan, memang, dari penelusuran sejumlah literatur sejarah di Nusantara, Joko Tingkir adalah putra Ki Kebo Kenanga. Cucu Adipati Andayaningrat atau Ki Ageng Sepuh, yang masih keturunan Prabu Brawijaya V. Joko Tingkir seorang santri. Ayahnya murid Syekh Siti Jenar. Joko Tingkir sendiri santri Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Banyubiru. Pernah juga berguru ke Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus.

Ronald Dwi Febrianzah, yang disebut sebagai pencipta lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet, itu akhirnya meminta maaf. ’’Karena kekurang, ketidaktahuan saya, ketidakpahaman saya di balik nama Joko Tingkir ini adalah sosok ulama besar dan dihormati di Jawa. Saya mohon maaf, tidak ada niatan saya untuk melecehkan nama beliau," ucap Ronald dalam video yang viral.

Setelah muncul kontroversi itu, belakangan muncul lirik lagu Joko Tingkir lain. Salah satunya, yang dipopulerkan Ketua Umum DPP PKB A. Muhaimin Iskandar. Wakil Ketua DPR RI itu berdendang berduet dengan Gita KDI, penyanyi asal Jawa Timur, membawakan lagu Joko Tingkir versinya. Judulnya, Pangeran Joko Tingkir: Joko Tingkir Wali Jowo, muride Sunan Kalijogo, Wes masyhur ing Nuswantoro Dadi wali yo dadi rojo….

Ramai setelah Dikunjungi Gus Dur

Kompleks makam Joko Tingkir di Desa Pringgoboyo, Lamongan, itu tidak seperti dulu. Beberapa puluh tahun lalu. Kini, sudah dilakukan sejumlah perbaikan oleh pemerintah. Mulai dari akses jalan ke lokasi makam, pagar, musala, tempat wudhu, gapura, dan beberapa sarana prasarana lain. Lapangan parkir juga sudah lumayan luas.

Namun, memang masih butuh peningkatan lagi. Saat Jawa Pos berkunjung pada Minggu (11/9), tampak sejumlah tukang bekerja. Mereka bergantian mengangkut batu urukan. Meratakan tanah di sekitar tempat wudhu, utara musala. ’’Biar pengunjung makin nyaman, Pak,’’ ujarnya.

Suasana makam pun terasa teduh. Pepohonan di sekitar rindang. Bersebelahan dengan batu-batu nisan jasad yang telah disemayamkan. Dua pohon asam besar nan tinggi menjulang. Berdekatan dengan makam Joko Tingkir. Pohon itu seolah menjadi satu penanda bahwa usia makam itu sudah ratusan tahun. Seperti lazin dijumpai di makam-makam sepuh lainnya.

Semilir angin sesekali menghempas. Rerimbunan bambu-bambu di seklilingnya bergoyang pelan. Dedaunan kering lantas jatuh berguguran.

Muslih, penjaga makam, menceritakan, sebelumnya warga desa menyebut kompleks itu sebagai makam Mbah Anggungboyo. Menurut tafsirnya, Anggungboyo itu terdiri atas dua kata. Anggung dan boyo. Anggung berarti mengangkat dan boyo itu beboyo atau bencana (musibah). Dikatakan, percaya atau tidak, setiap kali ada pohon di sana roboh, biasanya ada musibah besar di negeri ini.

’’Seperti beberapa tahun lalu, ada beberapa pohon ambruk, ternyata tidak lama terjadi gempa besar di Palu dulu itu. Begitu juga saat sebelum ada pandemi Covid-19,’’ ceritanya.

Anggungboyo juga ada yang memaknai sebagai mengangkat boyo atau buaya. Mereka mengaitkannya dengan cerita sejarah Joko Tingkir yang naik perahu gethek (berbahan bambu). Lalu, perahu itu dapat berjalan melintasi Bengawan Solo dengan bantuan 40 buaya.

Muslih menceritakan, makam Mbah Anggungboyo itu baru mulai didatangi peziarah dari luar setelah Gus Dur berkunjung. Peritiswa itu pada 1999 silam. Sebelum Gus Dur menjadi Presiden RI. Pada masa itu, Gus Dur juga pernah datang bersama KH Abdullah Faqih, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Langitan, Tuban, Jatim, kala itu.

’’Saat itu, Gus Dur mengatakan, ini makam Mbah Joko Tingkir. Kata beliau, yang benar ya di Pringgoboyo ini,’’ ungkap Muslih.

Sejak kedatangan cucu Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari itulah, lanjut dia, banyak peziarah yang datang. Bukan hanya masyarakat umum, juga para kiai dan tokoh-tokoh nasional. Mereka datang tidak hanya dari Pulau Jawa. Tapi, juga dari provinsi luar Jawa.

Setelah banyak dikunjungi, sekitar 2018 lalu, kompleks makam mulai dilakukan perbaikan-perbaikan. Makam berubah wajah. Dua gapura khas Lamongan menyambut setiap pengunjung yang datang. Satu di pagar depan, dan satunya lagi saat hendak memasuki cungkup pesarean Joko Tingkir.

Sebelum pengerjaan dilakukan, lebih dulu ada tim dari pusat maupun dari Balai Trowulan. Mereka melakukan kajian-kajian. ‘’Perbaikan kompleks makam dilakukan pada saat Bupati Lamongan dijabat oleh Pak Fadheli. Bupati sekarang (Yuhronur Efendi, Red) juga kabarnya akan membuat taman-taman di depan. Tapi, tidak kapan,’’ ungkapnya.

Muslih mengakui, dalam beberapa bulan terakhir ini kunjungan ke makam Joko Tingkir terus mengalir. Terutama saat akhir pekan. Apakah setelah lagu ngombe dawet itu? ’’Mboten sumerap (tidak tahu, Red). Mungkin saja, kemudian banyak yang menjadi penasaran. Tapi, Wallahu A’lam,’’ pungkas alumnus pendidikan guru agama (PGA) yang menyebut adik kelas mantan Wabup Gresik Moh. Qosim itu.

Beberapa orang pun berseloroh, yang betul itu bukan Joko Tingkir ngombe dawet. Tapi, para pengunjung saat mau ke makam Joko Tingkir, yang bisa ngombe dawet. Yakni, dawet batil, yang sudah lama viral. Setiap hari tempat itu ramai. Lokasinya, di Desa Bulu Brangsi, Kecamatan Laren. Itu kalau pengunjung datang ke makam Joko Tingkir dari jalur arah Gresik.

Dari pertigaan Bungah ke Dukun, terus mentok ke barat sampai Petiyen. Lalu, belok kiri sampai ada pertigaan, belok ke kanan. Beberapa kilometer ke barat, di situlah dawet batil berada. Nah, dari titik itu terus ke barat mentok lagi, kemudian belok kiri. Setelah melewati Jembatan Bengawan Solo, belok ke kiri. Di situlah Desa Pringgoboyo.

Selain di Lamongan, makam Joko Tingkir juga telah banyak disebut berada di Sragen, Jawa Tengah. Entah mana yang benar. Yang jelas, makam itu juga tidak jauh dari Bengawan Solo. Memang Bengawan Solo adalah satu peradaban. Sedari dulu, riwayatmu selalu menjadi perhatian insani.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore