JawaPos.com - Demi meminimalisir terjadinya kecelakaan lalu lintas akibat banyaknya pembalap liar di jalanan, Polresta Sidoarjo terus berupaya untuk melakukan langkah antisipasi melalui kegiatan preemtif, preventif, maupun represif.
Kapolresta Sidoarjo Kombespol Christian Tobing mengatakan bahwa antisipasi pembalap liar dilakukan setiap hari.
Yakni terdiri dari 40 persen kegiatan preemtif, 40 persen kegiatan preventif, dan 20 persen kegiatan represif. Namun, pihaknya mengaku lebih mengedepankan kegiatan preemtif dan preventif.
Kegiatan preemtif tersebut diantaranya adalah memberikan imbauan, sosialisasi ke masyarakat, sekolah, hingga ke komunitas-komunitas yang ada.
"Preventif kita melaksanakan patroli, ini sudah kita laksanakan setiap hari. Kalau represif yakni penindakan penilangan," ujarnya, dikutip dari Radar Sidoarjo (Jawa Pos Group), Rabu (31/1).
Pada Senin (22/1) lalu, tim gabungan TNI/Polri dan Dinas Perhubungan Sidoarjo telah memberikan efek jera kepada pembalap liar dengan menghukumnya berjalan kaki sambil mendorong motor ke Polresta Sidoarjo.
"Biar ada efek jera, mendorong motor hingga lima kilometer. Sesampainya di polres yang menggunakan knalpot brong kita amankan, kita sita. Untuk yang tidak ada surat-suratnya kita amankan juga, kalau ada surat-suratnya kita kembalikan," katanya.
Dalam mengantisipasi aksi balap liar, peran serta dari seluruh lapisan masyarakat, terutama anggota keluarga menjadi salah satu hal yang sangat dibutuhkan untuk menyadarkan para pelaku.
Selain itu, peran guru di sekolah dan pemerintah setempat juga sangat penting dalam penyelesaian masalah balap liar, sehingga tidak hanya menjadi tanggung jawab polisi saja.
"Orang tua diharapkan dapat mengimbau anak-anaknya untuk tidak melakukan balap liar. Selain itu, guru-guru di sekolah juga punya peran," imbuhnya.
Selain itu, peran serta pemerintah dalam melakukan cross check dan mendalami penyebab seringnya terjadi balap liar juga tidak kalah penting untuk mengatasi masalah tersebut.
"Menurut analisa yakni anak-anak muda yang melakukan balap liar ingin menyalurkan bakatnya. Peran pemerintah harus ada, mungkin misal di Sidoarjo dibangunkan sirkuit untuk road race maupun drag race," ucapnya.
Dengan diberikannya wadah tersebut, diharapkan dapat mengurangi aksi balap liar di jalanan. Namun, dengan catatan wajib safety, serta menggunakan helm dan surat-surat lengkap.
"Kita harus memberikan pemahaman, agar masyarakat atau anak-anak lebih menyadari bahwa kegiatan yang dilakukan itu tidak penting, karena membahayakan dirinya sendiri dan membahayakan keselamatan orang lain di jalan," terangnya.
Pihaknya juga mengimbau keluarga supaya tidak membiarkan anak menggunakan motor saat usianya masih belum mencukupi untuk menaiki kendaraan bermotor.
"Kedepan akan intens, yang jelas akan ada efek jera, rencanannya bukan hanya tilang saja. Dan terpenting menggerakkan dan menyadarkan mereka untuk pentingnya berlalu lintas," pungkasnya.
***