
Unjuk rasa kelompok umat muslim di Bali yang mendatangi Kantor DPD RI Bali buntut pernyataan Arya Wedakarna di Denpasar, Kamis (4/1).
JawaPos.com–Kepala Kantor DPD RI Bali Putu Rio menerima aspirasi dari sekelompok umat muslim yang mendatangi kantor mereka di Jalan Tjok Agung Tresna, Denpasar. Mereka menuntut pertanggungjawaban Senator Arya Wedakarna atas pernyataan yang dianggap memecah belah keharmonisan umat.
Dari sekitar 200 umat muslim Bali yang melakukan aksi unjuk rasa di Kantor DPD RI Bali, Denpasar, Kamis (4/1), sebanyak 20 orang perwakilan diajak berdiskusi dan menyampaikan aspirasi. Setelah itu, Putu Rio akan meneruskan aspirasi masyarakat muslim ke anggota DPD RI Arya Wedakarna (AWK) dan Sekjen DPD RI di Jakarta.
”Pasti disampaikan, ini kan yang dituju beliau, saya akan sampaikan poin-poin dari semeton muslim ke AWK dan sekjen sebagai atasan saya. Ini pun sudah koordinasi dengan pejabat-pejabat di Jakarta,” kata Rio seperti dilansir dari Antara.
Mengenai rencana kehadiran 200 orang warga dalam aksi itu, sekretariat kantor telah menyampaikan terlebih dahulu ke senator AWK. Namun, mereka mendapat kabar bahwa Arya Wedakarna berhalangan hadir karena ada kegiatan di SMP 2 Marga, Tabanan.
Rio menegaskan, setiap keputusan yang keluar dari anggota DPD RI bersifat kolegial atau diputuskan melalui sidang paripurna. Namun, ucapan AWK yang dinilai menyinggung pihak tertentu itu bersifat pribadi, bukan atas nama institusi.
Sebelumnya, ramai beredar video senator Arya Wedakarna sedang berbicara dengan nada tinggi saat rapat bersama Kanwil Bea Cukai. Dalam video itu, Arya meminta agar petugas frontliner sebaiknya merupakan putra dan putri daerah dengan tanpa menggunakan penutup kepala.
Potongan pernyataan tersebut akhirnya viral di berbagai media sosial. Bahkan, Rio menyebut sekretariat DPD RI sudah memperbincangkan hal itu dan segera akan menindaklanjuti.
Sementara itu, Swasto Haskoro, koordinator lapangan massa aksi menyampaikan, kehadiran mereka hanya ingin mendapat pertanggungjawaban dari pernyataan AWK. Sebab, dinilai mencederai kerukunan antar umat di Bali yang sejak zaman kerajaan telah terbangun.
Dalam diskusi, berulang kali disampaikan bahwa meski beragama Islam, mereka juga merupakan putra putri Bali. Sebab, nenek moyang mereka dan kampung halamannya ada di Bali.
”Kami tersakiti, pedih melihat dan mendengar yang disampaikan AWK dan era digital sama sekali tidak bisa dikontrol. Jadi, kami datang sendiri ke kantor ini dengan tertib, tujuannya ingin pertanggungjawaban dari sisi hukum, kalau akhirnya (AWK) harus dicopot, dipecat, barangkali bagus. Karena sangat mencederai dan memecah belah umat,” ujar Swasto Haskoro.
Ada dua pernyataan sikap yang menjadi tuntutan mereka. Yakni ingin agar mengusut tuntas dugaan tindak pidana penistaan agama dan pelanggaran kode etik oleh anggota DPD RI Dapil Bali Arya Wedakarna. Selain itu, mendesak kepolisian untuk menegakkan dan memproses hukum anggota DPD RI Arya Wedakarna.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
