
TERTATA RAPI: Kabid Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Lamongan Miftach Alamudin di depan makam Mbok Rondo Mbarang yang satu kompleks dengan makam Mbah Gedung Mbarang. (Alfian Rizal/Jawa Pos)
Meski dikenal identik dengan penyetan lele, sebagian warga Lamongan justru dilarang makan lele. Mereka yang nekat mengonsumsi ikan berkumis tersebut akan mendapat balasan berupa kulit yang terkelupas.
---
YANG menerapkan pantangan makan ikan lele adalah semua warga Desa Medang, Kecamatan Glagah, Lamongan. Jangankan mengonsumsi. Membudidayakan atau menjual lele pun mereka tak berani. Hal itu bukan tanpa alasan. Para leluhur percaya kejadian buruk akan menimpa siapa saja yang melanggar. Salah satunya, kulit yang terkelupas tanpa sebab.
Seiring perkembangan waktu, pantangan tersebut berlaku bukan hanya untuk warga Desa Medang, melainkan juga di beberapa kecamatan di Lamongan. Bahkan sampai luar Kota Lamongan seperti Gresik hingga Solo. ’’Siapa saja yang punya keturunan dari sini (Desa Medang, Red) dilarang makan lele,’’ kata Kepala Desa Medang Ahsanudin ketika ditemui beberapa waktu lalu. Pernah ada salah seorang warganya yang nekat menjual lele. Hanya menjual, bukan memakannya. Tak berselang lama, warga tersebut mendadak buta.
Warga tak menganggap larangan tersebut sebagai kutukan. Namun, pesan dari leluhur harus dijaga. Pantangan tersebut berawal dari kejadian yang dialami Mbah Boyo Pati. Salah satu utusan Sunan Giri yang makamnya berada di Desa Medang. Saat itu Mbah Boyo Pati mendapat perintah dari Sunan Giri. Yakni, mengambil keris yang ketinggalan di rumah Mbok Rondo Mbarang. Lokasinya kurang lebih 8 kilometer dari Desa Medang.
Saat pengambilan, Mbah Boyo Pati menggunakan keilmuannya. Tanpa masuk rumah. Keris tersebut bisa berada di tangannya. Melihat itu, Mbok Rondo Mbarang tidak terima. Dia merasa dilangkahi. Apalagi, menurut dia, cara tersebut dianggap tidak sopan. Tak berselang lama, dia berteriak-teriak hingga warga berdatangan.
Teriakan tersebut membuat Mbah Boyo Pati lari hingga dikejar warga. Utusan Sunan Giri itu kemudian menyelamatkan diri. Dia berlari hingga ke Desa Medang. Karena sudah terdesak, dia masuk ke sebuah sendang atau kolam yang banyak ikan lele. Berdasar cerita yang turun-temurun, ikan lele tersebut menutupi tubuh Mbah Boyo Pati yang ada di dalam air. Warga yang sedang mengejar Mbah Boyo Pati kehilangan jejak. Mereka tidak mengira bahwa Mbah Boyo Pati berada di dalam sendang. Sebab, jika ada orang di dalamnya, otomatis ikan lele tidak bergerombol.
Karena merasa diselamatkan, Mbah Boyo Pati memberikan pesan dan mewanti-wanti warga Desa Medang dan turunannya agar tidak makan lele. Pesan tersebut dijaga betul sampai sekarang. Jika ada yang nekat melanggar, balak pun bisa menghampirinya. ’’Yang pasti, kulit bisa terkelupas hingga berwarna putih, sembuhnya juga susah,’’ kata Ahsanudin.
Di area makam Mbah Boyo Pati atau yang diberi nama Syekh Abdus Somad juga terdapat sebuah kubangan seperti sendang. Konon, lokasi itu yang menjadi tempat Mbah Boyo Pati diselamatkan ikan lele. ’’Kalau soal ini, versinya banyak, ada yang bilang lokasinya di tempat lain,’’ terang Ahsanudin.
Bagi mereka yang telanjur makan lele, biasanya harus berziarah ke makam Mbah Boyo Pati. Setelah berdoa, warga bisa mengambil kembang kering yang ada di makam. Setelah itu, dioleskan ke kulit yang terkelupas dan berwarna putih. Ada juga yang dicampur dengan air di sekitar kubangan atau sendang di area makam.
Warga Desa Medang juga rutin menggelar haul akbar setahun sekali di makam Mbah Boyo Pati. Jawa Pos juga mengunjungi lokasi makam Mbok Rondo Mbarang di Dusun Mbarang Kauman, Desa Pendowolimo, Kecamatan Karangbinangun. Di sana kami mencoba berkomunikasi. ’’Mbok Rondo Mbarang tidak mau tahu soal urusan larangan makan lele,’’ kata Breh yang dikenal sebagai praktisi spiritual setempat.
Menurut dia, hubungan Mbah Boyo Pati dan Mbok Rondo Mbarang memang kurang baik. Bahkan saat sudah meninggal. Mbah Boyo Pati merasa iri dengan kondisi makam Mbok Rondo Mbarang yang sudah tertata dengan baik.
Di akhir cerita, keris yang ada di tangan Mbah Boyo Pati itu dikembalikan ke Sunan Giri. Namun, saat dikembalikan, Sunan Giri justru memberikannya. ’’Kalau dilihat, keris itu selalu dibawanya sampai sekarang,’’ kata Breh saat di lokasi makam Mbah Boyo Pati.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menuturkan, cerita tersebut sudah menjadi kepercayaan. Bahkan, ada keluarganya yang mengalami kejadian tersebut. Setelah makan lele, kulit tubuhnya semacam terkelupas dan berwarna putih. ’’Kalau saya, kebetulan boleh makan lele,’’ ucapnya.
Menurut Yuhronur, pesan leluhur tersebut tetap harus dijaga. Karena itu, beberapa upaya dilakukan Pemkab Lamongan. Selain menjaga kondisi makam sebagai cagar budaya, pemkab menyelenggarakan festival pecel lele. ’’Karena pandemi, jadi sementara ditiadakan,’’ terangnya.
Festival pecel lele digelar karena Lamongan identik dengan makanan satu itu. Hampir semua pedagang pecel lele berasal dari Lamongan. Di samping itu, festival tersebut menjaga pesan leluhur dan cerita daerah akan larangan makan lele.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
