
Longsor di Desa Sumberagung, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Malang pertengahan 2023 lalu (Darmono/Radar Malang)
JawaPos.com – Kemampuan alat pendeteksi bencana di Kabupaten Malang, seperti tsunami dan longsor terancam tidak berfungsi maksimal.
Hal itu dikarenakan empat dari 20 titik Early Warning System (EWS) atau radar pendeteksi bencana mengalami kerusakan.
Dua di antara empat yang rusak itu adalah EWS tsunami yang terletak di Pantai Tamban, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe).
Sementara dua lainnya adalah EWS tanah gerak yang masing-masing ada di Dusun Krajan, Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit, dan Dusun Ganten, Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang.
Padahal, EWS dibutuhkan untuk memantau daerah rawan longsor dan banjir di enam titik, yaitu Kecamatan Tirtoyudo, Ampelgading, Sumawe, Kasembon, Ngantang, dan Pujon
“Di Ngantang kan awal tahun ini juga ada tanah gerak, tepatnya di Desa Tulungrejo itu. Tapi EWS-nya rusak,” ujar Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kabupaten Malang, Yulius Dharmawan, Selasa (21/11).
Dilansir dari Radar Malang, pada tahun lalu Yulius Dharmawan mengatakan jika tanah di salah satu perdukuhan di desa tersebut retak dan ambles, bahkan amblesnya sampai sekitar 50 sentimeter.
Namun, karena keterbatasan anggaran, BPBD Kabupaten Malang masih belum bisa melakukan pengadaan EWS baru.
“Selama ini, EWS diperoleh dari BPBD Provinsi dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana),” ungkapnya.
Selain alat, pihaknya lebih mengoptimalkan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang saat ini sudah dibentuk di 94 desa. Salah satunya di Desa Tambakrejo yang EWS-nya juga dalam kondisi rusak.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Anita Wulandari menjelaskan bahwa di Desa Tambakrejo rutin dilaksanakan drill tsunami satu tahun sekali.
“Bentuknya semacam pelatihan jika terjadi tsunami berkekuatan lebih dari 7 SR (Skala Richter),” katanya.
Selain itu, masyarakat juga diberikan edukasi terkait ciri-ciri gelombang tsunami. Dalam pelatihan tersebut, semua masyarakat dilatih untuk berlari menuju Tempat Evakuasi Sementara (TES).
Pelatihan itu bertujuan untuk menghitung jarak waktu antara golden time tsunami (waktu gelombang tiba di darat) dan waktu tiba masyarakat di TES.
Nita menjelaskan jika tsunami memiliki golden time selama 20 menit dengan ketinggian terburuk sekitar 20 meter, sehingga jika masyarakat sudah merasakan gempa hingga tidak bisa berdiri selama dua menit, mereka harus lari sekuat tenaga menuju TES.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
